📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Takalar, Katasulsel.com — Politik Golkar di Sulawesi Selatan sedang tidak ribut. Tapi juga tidak sunyi. Ia seperti ruangan ber-AC: tenang, tapi suhunya bisa turun mendadak kalau salah atur.

Di Baruga Pangrannuangku, Takalar, Minggu itu, yang datang memang Pelaksana Tugas Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said. Secara struktur, dialah pemilik mimbar. Secara formal, dialah penentu agenda. Tapi politik jarang patuh sepenuhnya pada struktur.
Sebab yang paling sering disebut—tanpa disebut—justru Munafri Arifuddin.
Appi.

Ia duduk, berdiri, berjalan, mendampingi. Tapi namanya beredar lebih cepat dari susunan acara. Di antara para ketua DPD II, di sela-sela salam dan pelukan kader, satu frasa muncul spontan: “Appi ji.”

Pendek. Sederhana. Tapi penuh makna.
Ini bukan forum deklarasi. Bukan pula arena kampanye. Ini konsolidasi Dapil Sulsel I: Makassar, Takalar, Gowa, Jeneponto, Bantaeng. Lengkap secara wilayah.

Padat secara struktur. Semua ketua DPD II hadir. Tokoh pusat turun. Dari Hamka B Kady sampai Kadir Halid.

Muhidin M Said berbicara seperti Plt yang paham tugasnya. Bicara target. Bicara angka. Bicara Pemilu 2029. Dua kursi DPR RI di Dapil Sulsel I. Kurang 20 ribu suara pada pemilu lalu. Angka itu diulang. Ditegaskan. Seolah ingin mengatakan: ini bukan mimpi, ini urusan kerja.

Ia juga menyinggung soliditas Golkar di bawah Bahlil Lahadalia. Satu komando. Satu arah. Mendukung pemerintahan Prabowo–Gibran. Bahasa resmi. Bahasa aman. Bahasa yang memang harus diucapkan.

Namun politik Golkar hari itu justru bekerja di luar teks pidato.

Nama Appi tidak disebut di podium. Tapi hidup di ruangan. Ia tidak mengangkat tangan. Tapi namanya terangkat. Ia tidak berorasi. Tapi disebut-sebut.

Dalam politik, itu tanda awal. Bukan akhir.
Appi membawa sesuatu yang tidak dimiliki semua orang: ia diterima tanpa harus memaksa. Di Golkar, itu mata uang mahal. Ia tidak datang sebagai penantang. Tidak pula sebagai penyelamat. Ia hadir sebagai “yang mungkin”.

Dan politik sangat menyukai kata itu.
Apalagi Musda Golkar Sulsel sudah di depan mata. Konsolidasi hari ini selalu dibaca sebagai peta besok. Siapa sering didampingi. Siapa sering disebut. Siapa disapa lebih dulu. Siapa dipanggil namanya, bukan jabatannya.

Munafri Arifuddin sendiri memilih tetap kalem. Bicara soal silaturahmi. Soal kekompakan. Soal kesiapan partai menghadapi agenda besar. Tidak satu kalimat pun terdengar seperti ambisi.
Tapi justru di situlah ironi politik bekerja: yang tidak bicara paling keras, sering kali paling diperhitungkan.

Takalar hari itu tidak melahirkan keputusan. Tapi melahirkan kesan. Dan dalam politik, kesan sering kali lebih berbahaya—atau lebih menentukan—daripada keputusan.

Nama Appi menggema.
Golkar Sulsel mendengar.
Musda tinggal menghitung hari.
Dan politik, seperti biasa, sedang menyusun bab berikutnya—pelan, rapi, tapi penuh maksud. (*)