Jakarta, Katasulsel.com – Dunia kembali disuguhi drama diplomasi yang membingungkan.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran sedang berjalan, bahkan menyebut bahwa hasilnya bisa berupa penyitaan uranium yang diperkaya.
Namun, klaim ini langsung dibantah keras oleh pihak Iran.
Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan tidak ada negosiasi resmi.
Pesan dari AS melalui negara sahabat dianggap sekadar permintaan dialog, bukan pembicaraan formal.
Artinya, klaim Trump sejauh ini lebih mirip alat politik daripada fakta lapangan.
Beberapa pengamat menyebutnya “ilusi diplomasi” atau perang narasi untuk menunjukkan inisiatif AS di tengah tekanan internasional.
Analisisnya apa?
Ini bukan sekadar perbedaan kata-kata.
Strategi politik Trump menekankan kontrol narasi dan memberi kesan “AS sedang menekan Iran”, sementara Iran mempertahankan prinsip dan memproyeksikan posisi tegas.
Ketidakjelasan ini menimbulkan ketidakpastian tinggi, risiko eskalasi meningkat, dan memunculkan peran negara ketiga sebagai mediator tak langsung.
Kesimpulannya, hingga kini belum ada bukti resmi bahwa negosiasi nyata terjadi.
Yang terjadi adalah pertarungan narasi politik internasional, di mana klaim dan bantahan dipakai untuk mengukur posisi lawan, mempengaruhi opini global, dan menekan pihak ketiga.
Dunia menonton—apakah ini akan menjadi diplomasi nyata atau sekadar pertunjukan politik? (*)
