Lalu akses mulai dibuka. Jalan diperbaiki. Orang mulai datang.

Dan tanpa disangka, peminatnya terus bertambah.

“Awalnya memang warga sering ke sini. Setelah akses dibuka, ternyata banyak yang datang. Dari situ kami mulai benahi pelan-pelan,” ujarnya.

Kini, fasilitas mulai dilengkapi. Gazebo berdiri di beberapa titik. Area bakar ikan disiapkan. Ban untuk river tubing tersedia. Semua dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Menariknya, tidak ada tiket masuk.

Pengunjung hanya membayar Rp15 ribu untuk menyewa ban. Selebihnya, mereka bebas menikmati alam.

Sederhana. Tapi justru itu daya tariknya.

Di tengah banyaknya destinasi wisata modern, Batu Tengnga hadir tanpa kemewahan—namun penuh kehangatan.

Dan di libur Lebaran ini, tempat itu berubah menjadi ruang bahagia.

Tempat di mana keluarga berkumpul.

Tempat di mana tawa mengalir… bersama arus sungai.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.