Sidrap, katasulsel.com — Suara tawa anak-anak pecah di antara aliran air.

Percikan sungai memantul ke batu-batu. Orang tua duduk santai di pinggir, sebagian menyiapkan ikan untuk dibakar. Di kejauhan, perbukitan hijau berdiri tenang, seperti menjaga suasana.

Itulah wajah Sungai Batu Tengnga, Senin (23/3/2026).

Destinasi wisata alam di Barukku, Kelurahan Batu, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap ini mendadak ramai saat libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Sejak pagi, pengunjung terus berdatangan. Tidak hanya dari sekitar, tapi juga dari berbagai wilayah di Sidrap.

Sungai yang berada di aliran Sungai Lampiring itu menawarkan sesuatu yang sederhana—tapi justru dirindukan banyak orang: air jernih, arus tenang, dan suasana alami yang belum tersentuh hiruk pikuk kota.

Bagi para pemudik, tempat ini jadi pelarian.

Tempat untuk melepas lelah. Tempat untuk kembali merasa ringan.

Anak-anak menjadi yang paling menikmati. Mereka bermain air tanpa henti, tertawa lepas, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.

“Mandi-mandi, seru. Datang ke sini sama mama, sama nenek, sama bapak. Suasananya enak,” ujar Kayla, wisatawan cilik yang larut dalam keseruan.

Tak hanya bermain air, pengunjung juga mencoba river tubing—mengapung di atas ban mengikuti aliran sungai. Arus yang tidak terlalu deras membuat aktivitas ini relatif aman, bahkan untuk anak-anak.

Yang menarik, Batu Tengnga bukan destinasi wisata yang lahir dari proyek besar.

Ia tumbuh dari kebiasaan warga.

Baharuddin, pengelola setempat, mengisahkan bahwa kawasan ini awalnya hanya dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat santai yang disebut “Batu Tengnga”.

Lalu akses mulai dibuka. Jalan diperbaiki. Orang mulai datang.

Dan tanpa disangka, peminatnya terus bertambah.

“Awalnya memang warga sering ke sini. Setelah akses dibuka, ternyata banyak yang datang. Dari situ kami mulai benahi pelan-pelan,” ujarnya.

Kini, fasilitas mulai dilengkapi. Gazebo berdiri di beberapa titik. Area bakar ikan disiapkan. Ban untuk river tubing tersedia. Semua dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Menariknya, tidak ada tiket masuk.

Pengunjung hanya membayar Rp15 ribu untuk menyewa ban. Selebihnya, mereka bebas menikmati alam.

Sederhana. Tapi justru itu daya tariknya.

Di tengah banyaknya destinasi wisata modern, Batu Tengnga hadir tanpa kemewahan—namun penuh kehangatan.

Dan di libur Lebaran ini, tempat itu berubah menjadi ruang bahagia.

Tempat di mana keluarga berkumpul.

Tempat di mana tawa mengalir… bersama arus sungai.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.