Sidrap, katasulsel.com — Turnamen bulutangkis lokal biasanya identik dengan suasana santai.
Datang.
Main.
Pulang.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Tetapi suasana berbeda justru terlihat jelang pelaksanaan Adinda Cup I 2026 di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Sebelum shuttlecock pertama dipukul, panitia lebih dulu “memanaskan” turnamen lewat sederet aturan ketat.
Mulai dari sistem pertandingan, aturan keterlambatan, hingga ancaman diskualifikasi bagi pemain yang dianggap tidak sesuai kategori.
Turnamen yang akan berlangsung 15–17 Mei 2026 di GOR Risma Lanrang itu dipastikan tidak sekadar jadi ajang hiburan komunitas badminton.
Panitia ingin kompetisi berjalan serius dan tertib sejak awal.
Ketua Panitia, Suhardi Wawan, menegaskan seluruh peserta wajib mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
“Seluruh peserta wajib mematuhi aturan yang telah ditetapkan panitia demi kelancaran dan ketertiban turnamen,” ujarnya.
Yang menarik, panitia menggunakan sistem verifikasi kategori pemain secara ketat berdasarkan klasifikasi resmi.
Kategori yang dipertandingkan meliputi ganda putra C+/C Under dan C/C, serta ganda putri antar instansi se-Sidrap.
Jika saat verifikasi ditemukan pemain yang dianggap “turun kelas” atau tidak sesuai kategori, konsekuensinya langsung berat:
Diskualifikasi.
Lawan otomatis menang walk over (WO).
Sistem pertandingan sendiri memakai format gugur dengan skor 21 poin best of three game.
Sementara pengundian bagan dilakukan menggunakan aplikasi resmi PBSI.
Artinya, turnamen lokal ini mencoba tampil dengan nuansa profesional.
Tidak hanya pemain, penonton dan ofisial tim juga ikut diatur.
Panitia meminta seluruh pihak menjaga ketertiban di arena pertandingan.
Bahkan panitia membuka kemungkinan mengeluarkan siapa pun yang dianggap mengganggu keamanan dan jalannya turnamen.
Ada pula aturan disiplin waktu yang cukup tegas.
Peserta wajib hadir 30 menit sebelum pertandingan.
Jika setelah dipanggil tiga kali dengan jeda tiga menit pemain belum masuk lapangan, statusnya langsung WO.
Di kalangan pemain bulutangkis lokal, aturan seperti ini biasanya jadi pembicaraan tersendiri.
Karena turnamen lokal sering kali lebih cair.
Namun Adinda Cup tampaknya ingin membangun citra berbeda:
Lebih tertib.
Lebih kompetitif.
Dan lebih profesional.
Menariknya lagi, hak protes juga dibatasi.
Hanya peserta atau manajer tim yang hadir saat technical meeting yang diperbolehkan mengajukan keberatan — tentu dengan biaya administrasi.
Di titik ini, Adinda Cup bukan hanya soal mencari juara.
Tetapi juga sedang mencoba membangun kultur turnamen yang lebih disiplin di level daerah. (*)
Update terbaru: 14 Mei 2026 14:35 WIB
