Pontianak, Katasulsel.com — Polemik Lomba Cerdas Cermat Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tingkat Kalimantan Barat kini berubah arah.
Awalnya publik ribut soal penilaian.
Sekarang yang dipersoalkan justru respons sang juri sendiri.
Nama Indri Wahyuni kembali menjadi sorotan setelah serangkaian status WhatsApp miliknya tersebar di media sosial.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Bukannya meredakan suasana setelah dinonaktifkan oleh Sekretariat Jenderal MPR RI, unggahan tersebut justru dianggap memperkeruh keadaan.
Yang membuat publik bereaksi keras bukan hanya isi statusnya.
Tetapi nada yang dipakai.
Alih-alih menunjukkan sikap reflektif, Indri justru terlihat menantang balik kritik publik.
Ia membela keputusannya memenangkan SMAN 1 Sambas atas SMAN 1 Pontianak dan menilai publik tidak adil dalam melihat persoalan.
“Berfokus hanya pada satu sekolah dan mengabaikan keadilan untuk yang lain adalah bagian dari bentuk ketidaktahuan terbesar,” tulisnya dalam salah satu unggahan.
Tetapi bagian yang paling memicu ledakan reaksi justru muncul saat ia menyinggung LHKPN dan komentar netizen.
“Biar makin kaya. Supaya LHKPN gw yang tersebar makin bikin shock banyak orang,” tulisnya lagi dengan nada sarkastik.
Di titik itu, polemik ini berubah.
Bukan lagi sekadar soal benar atau salah memberi poin lomba.
Tetapi soal etika.
Karena publik melihat ada jarak besar antara semangat Empat Pilar yang mengajarkan keteladanan dengan gaya respons yang muncul di media sosial.
Ironisnya, semua ini terjadi setelah MPR RI sebelumnya sudah mengambil langkah cukup keras:
Menonaktifkan dewan juri dan MC lomba.
Artinya, lembaga sebenarnya sudah mencoba meredam polemik.
Namun respons di media sosial justru membuat api kembali membesar.
Yang menarik, publik kini mulai menyoroti bukan hanya hasil lomba, tetapi proses seleksi juri.
Banyak netizen mempertanyakan bagaimana figur yang membawa nama lembaga negara bisa menunjukkan respons yang dianggap emosional dan provokatif di ruang publik.
Kasus ini juga memperlihatkan satu hal yang makin nyata di era digital:
Sebuah kontroversi tidak lagi selesai di arena utama.
Kadang justru membesar setelah masuk media sosial.
Dan dalam kasus LCC ini, status WhatsApp tampaknya menjadi “babak tambahan” yang membuat simpati publik semakin menjauh.
Padahal awal polemik hanya satu:
Jawaban yang dinilai berbeda untuk substansi yang dianggap sama.
Kini, persoalannya berkembang jauh lebih luas.
Tentang profesionalisme.
Etika publik.
Dan bagaimana seseorang bersikap ketika sedang berada di bawah sorotan. (*)
Update terbaru: 14 Mei 2026 15:23 WIB
