Juri Dinilai “Masuk Angin”, Peserta Protes di Depan Umum
PONTIANAK — Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI tingkat provinsi di Pontianak mendadak berubah tegang.
Bukan karena peserta tidak bisa menjawab.
Tetapi karena satu jawaban yang sama justru dinilai berbeda oleh dewan juri.
Akibatnya, suasana lomba memanas.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Salah satu peserta bahkan secara terbuka melayangkan protes kepada juri di arena perlombaan.
Momen itu langsung menjadi sorotan.
Sebab dalam lomba berbasis pengetahuan seperti cerdas cermat, konsistensi penilaian adalah “harga mati”.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Peserta dari SMAN 1 Pontianak merasa dirugikan setelah jawaban mereka dianggap salah, padahal substansinya disebut sama dengan jawaban peserta lain yang sebelumnya dinyatakan benar.
Alih-alih meredakan situasi, dewan juri tetap bergeming.
Juri bersikeras jawaban peserta tersebut kurang tepat.
Keputusan itu memicu kegaduhan dan perdebatan di arena lomba.
Peristiwa ini akhirnya sampai ke telinga anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sekaligus Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian.
Ia menilai polemik tersebut tidak bisa dianggap sepele.
Hetifah bahkan mendorong agar lomba cerdas cermat itu diulang demi menjaga kredibilitas kompetisi.
Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi besar dalam pelaksanaan lomba-lomba edukatif yang membawa nama lembaga negara.
“Peristiwa tersebut harus menjadi momentum evaluasi agar pelaksanaan lomba cerdas cermat dapat berlangsung lebih baik,” ujarnya.
Di tengah polemik yang terus berkembang, pihak MPR RI akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada peserta dan publik.
MPR mengakui adanya dugaan kelalaian dari pihak dewan juri yang memicu kontroversi penilaian tersebut.
Tidak hanya meminta maaf, panitia juga mengambil langkah cepat.
Juri dan pembawa acara lomba langsung dinonaktifkan.
Keputusan itu dianggap sebagai upaya meredam polemik sekaligus menjaga marwah lomba yang sejatinya bertujuan menanamkan pemahaman kebangsaan kepada pelajar.
Namun di media sosial, publik telanjur ramai bereaksi.
Banyak yang menyayangkan bagaimana lomba tentang nilai-nilai kebangsaan justru ricuh karena masalah objektivitas penilaian.
Sebab bagi peserta, kalah dalam lomba mungkin biasa.
Tetapi kalah karena penilaian yang dianggap tidak konsisten, itu yang sulit diterima. (*)
Update terbaru: 13 Mei 2026 13:47 WIB
