Sumatra, Katasulsel. com — Kehadiran Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) kini tidak lagi dipandang hanya sebagai infrastruktur konektivitas antardaerah. Di balik masifnya pembangunan jalan tol di Pulau Sumatra, PT Hutama Karya (Persero) mulai membangun ekosistem ekonomi baru dengan menjadikan rest area sebagai pusat aktivitas UMKM dan ruang tumbuh ekonomi lokal.

Melalui pengelolaan 29 rest area yang tersebar di berbagai ruas JTTS, Hutama Karya membuka peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas pasar, memperkuat branding produk lokal, hingga meningkatkan daya saing usaha di tengah arus mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.

Direktur Operasi III Hutama Karya, Iwan Hermawan, mengatakan rest area kini memiliki fungsi yang jauh lebih strategis dibanding sekadar tempat beristirahat bagi pengguna jalan tol. Menurutnya, rest area telah berkembang menjadi simpul ekonomi baru yang menghubungkan produk lokal dengan pasar yang lebih luas.

“JTTS tidak hanya kami hadirkan untuk memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga untuk membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Melalui rest area, pelaku UMKM lokal memiliki ruang untuk memasarkan produk, memperluas jaringan pelanggan, dan ikut tumbuh bersama meningkatnya konektivitas antarwilayah di Sumatra,” ujar Iwan.

Konsep tersebut sejalan dengan tren pembangunan infrastruktur modern yang kini mulai mengedepankan pendekatan economic ecosystem, yakni pembangunan yang tidak hanya fokus pada fisik jalan, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Saat ini, lebih dari 460 UMKM telah mengisi tenant di 29 rest area JTTS yang tersebar di berbagai ruas strategis di Sumatra. Kehadiran mereka menjadi bagian dari strategi Hutama Karya untuk memastikan manfaat pembangunan infrastruktur dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal.

Tidak hanya membuka akses usaha baru, keberadaan UMKM di rest area juga menciptakan efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan produk lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dalam pengelolaan rest area, Hutama Karya bahkan memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha lokal dibanding ketentuan regulasi pemerintah. Jika Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2023 mewajibkan alokasi minimal 30 persen area komersial untuk UMKM, Hutama Karya justru memprioritaskan sekitar 70 persen tenant rest area bagi pelaku UMKM lokal.

Tenant tersebut diisi berbagai sektor usaha, mulai dari kuliner khas daerah, produk oleh-oleh, kerajinan lokal, hingga kebutuhan pengguna jalan lainnya. Strategi ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat local economic branding di sepanjang koridor JTTS.

Tidak berhenti pada penyediaan tempat usaha, Hutama Karya juga menghadirkan berbagai program pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas bisnis UMKM. Program tersebut meliputi pelatihan promosi produk, pendampingan laporan keuangan, penyediaan buku menu, demo masak produk unggulan, hingga edukasi penggunaan sistem pembayaran digital berbasis QRIS.

Sejak 2023, sekitar 170 UMKM telah mengikuti program peningkatan kapasitas tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari strategi business upgrading agar pelaku UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan naik kelas.

Dalam dunia ekonomi kreatif dan bisnis modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai sustainable community development, yakni pengembangan masyarakat berbasis pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Selain menggandeng mitra pembinaan UMKM, Hutama Karya juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyediakan lokasi promosi produk khas daerah tanpa dikenakan biaya tambahan. Inisiatif tersebut menjadi ruang promosi efektif bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produknya kepada jutaan pengguna jalan tol yang melintas setiap tahun.

Dari sisi pembiayaan, Hutama Karya turut menggandeng Bank BRI melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK) guna memperluas akses modal bagi UMKM. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan usaha masyarakat lokal di tengah dinamika ekonomi nasional.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Hutama Karya juga meluncurkan program diskon biaya sewa tenant sebesar 50 persen bagi pelaku UMKM yang ingin membuka usaha di rest area JTTS.

Program ini dirancang untuk memperluas akses usaha di lokasi strategis yang memiliki traffic pengguna jalan cukup tinggi. Melalui skema tersebut, tenant yang menyewa selama tiga bulan akan mendapatkan tambahan masa sewa menjadi enam bulan. Sementara penyewaan enam bulan akan memperoleh masa sewa hingga satu tahun.

“Melalui program ini, kami ingin memberikan ruang yang lebih terbuka bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar dan menjangkau lebih banyak pelanggan. Rest area JTTS memiliki potensi ekonomi yang besar karena menjadi titik singgah pengguna jalan,” tambah Iwan.

Selain menjadi pusat ekonomi, rest area JTTS juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti toilet bersih, masjid yang nyaman, area parkir luas, serta ruang duduk yang memadai. Dengan konsep tersebut, rest area kini berkembang menjadi integrated public space yang menggabungkan fungsi pelayanan pengguna jalan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sebagai bagian dari evaluasi dan penguatan layanan, Direktur Operasi III Hutama Karya Iwan Hermawan bersama Plt EVP Divisi Operasi dan Pemeliharaan Jalan Tol Ni Putu Oki Wirastuti turut melakukan peninjauan langsung ke Rest Area KM 163 Jalur A Tol Terbanggi Besar–Kayu Agung pada Rabu (6/5/2026).

Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan fasilitas, kualitas layanan, serta peluang pengembangan tenant UMKM agar rest area benar-benar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang koridor JTTS.

Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur nasional, Hutama Karya kini mencoba menghadirkan narasi baru bahwa jalan tol bukan hanya jalur mobilitas, tetapi juga ruang tumbuh ekonomi rakyat. Rest area JTTS perlahan berubah menjadi wajah baru ekonomi lokal Sumatra yang lebih modern, terkoneksi, dan kompetitif.

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita