Le Mans, Prancis — Hasil posisi 11 di FP1 Moto3 Prancis 2026 mungkin terlihat biasa di atas kertas. Tapi bagi yang benar-benar mengikuti jalannya sesi di Sirkuit Bugatti, performa Veda Ega Pratama justru menyimpan pesan berbahaya untuk para rivalnya.
Ini bukan FP1 biasa.
Veda sempat nongkrong di posisi empat besar, bertahan cukup lama di tengah kekacauan khas Moto3—kelas balap yang dikenal brutal karena selisih waktu antarpembalap sering hanya dipisahkan sepersekian detik.
Yang menarik, Veda tidak mencatat waktu cepat itu secara kebetulan. Ia terlihat nyaman saat memasuki sektor flowing di Le Mans, terutama saat perubahan arah cepat dan pengereman keras sebelum chicane. Itu tanda penting.
Artinya? Feeling motor dan keberanian braking point Veda mulai menyatu.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Masalah terbesar Veda di FP1 justru bukan kecepatan murni, melainkan traffic dan positioning. Ia beberapa kali terjebak di “slipstream train”—rombongan pembalap yang saling mencari angin. Dalam Moto3, salah memilih grup bisa menghancurkan satu lap time.
Dan itu yang terjadi.
Posisinya sempat jatuh drastis hingga keluar dari 15 besar. Tapi di situlah mental pembalap muda diuji. Banyak rider rookie biasanya panik saat time attack berantakan. Namun Veda justru tetap tenang dan mampu comeback ke posisi 11 di akhir sesi.
Itu detail kecil yang sangat penting.
Sebab Le Mans bukan sirkuit yang ramah untuk pembalap muda. Trek ini teknikal, sempit di beberapa sektor, dan sangat sensitif terhadap racing line. Sedikit salah masuk tikungan, satu lap langsung rusak.
Namun Veda terlihat makin percaya diri setiap kali lintasan mulai ramai.
Ini yang membuat banyak pengamat paddock mulai penasaran: apakah Veda sengaja belum menunjukkan seluruh potensinya?
Jika melihat pola FP1, peluang Veda untuk langsung masuk Q2 pada sesi berikutnya terbuka lebar. Apalagi biasanya pembalap Asia cenderung berkembang cepat setelah memahami grip lintasan dan arah angin di Le Mans.
Ada satu hal lagi yang menarik: pace Veda terlihat lebih stabil dibanding beberapa rider yang hanya kuat satu lap. Dalam Moto3, itu penting untuk race nanti. Sebab balapan di kelas ini hampir selalu berubah jadi “group battle”, rombongan besar yang saling overtake hingga lap terakhir.
Dan gaya balap Veda justru cocok untuk situasi seperti itu.
Ia dikenal cukup agresif saat late braking, berani membuka racing line sempit, dan tidak takut duel wheel-to-wheel. Karakter seperti ini sering menguntungkan di Le Mans, terutama jika balapan berlangsung chaotic.
Prediksinya?
Kalau Veda bisa memperbaiki strategi mencari slipstream dan mendapat clean lap di Practice berikutnya, peluang masuk 10 besar bahkan top 7 sangat realistis. Dan bila berhasil start dari barisan tengah depan, bukan tidak mungkin ia ikut rombongan perebut podium saat race nanti.
Le Mans sering melahirkan kejutan. Dan dari FP1 ini, satu hal mulai terasa jelas:
Veda Ega Pratama belum datang ke Prancis hanya untuk numpang lewat. (edy)
