Makassar, katasulsel.com — Sidrap perlahan mulai mencuri perhatian dunia internasional. Kabupaten yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Sulawesi Selatan itu kini tidak lagi hanya identik dengan hamparan sawah dan produksi beras melimpah, tetapi juga mulai disebut sebagai titik awal lahirnya pertanian masa depan Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Syaharuddin Alrif, Sidrap kini menjadi pusat kolaborasi internasional pengembangan smart farming atau pertanian cerdas berbasis teknologi modern bersama Universitas Hasanuddin dan The University of Newcastle Australia.
Kolaborasi bertajuk Smart Agriculture Collaboration: Empowering Rural Farmers for Climate Resilience itu disebut menjadi salah satu langkah serius menghadapi ancaman perubahan iklim global yang mulai mengganggu stabilitas pangan dunia.
Yang membuat perhatian publik semakin besar, sejumlah pakar teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dari Australia ikut turun langsung dalam proyek tersebut.
Salah satunya adalah Dr. Shaleeza Sohail, akademisi yang dikenal aktif mengembangkan teknologi AI untuk sektor pertanian modern dan ketahanan pangan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Menurutnya, masa depan pertanian tidak lagi hanya bergantung pada pengalaman bertani secara tradisional, tetapi juga pada kemampuan teknologi membaca perubahan cuaca, memprediksi risiko gagal panen, hingga membantu petani mengambil keputusan lebih cepat dan tepat.
Di Sidrap, konsep itu mulai dipersiapkan secara serius.
Teknologi seperti AI, Internet of Things (IoT), hingga sistem pertanian berbasis data akan diperkenalkan langsung kepada petani dan generasi muda desa melalui berbagai program pelatihan dan demonstrasi lapangan.
Bagi banyak pihak, Sidrap dipilih bukan tanpa alasan. Daerah ini dinilai memiliki kekuatan budaya agraris yang kuat, produktivitas pangan tinggi, serta dukungan pemerintah daerah yang serius membangun sektor pertanian modern.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan Syaharuddin Alrif memang dikenal agresif mendorong penguatan sektor pangan, mulai dari peningkatan indeks pertanaman, penguatan stok beras, hingga menjaga stabilitas pangan daerah.
Kini, langkah tersebut mulai memasuki babak baru: membawa Sidrap menuju era pertanian digital kelas dunia.
βPertanian masa depan bukan hanya soal produksi, tetapi bagaimana teknologi bisa membantu petani bertahan menghadapi perubahan iklim,β ungkap salah satu tim kolaborasi dalam forum virtual yang digelar Kamis (7/5/2026).
Tak hanya akademisi Australia, proyek ini juga melibatkan tim peneliti dari Universitas Hasanuddin seperti Muhammad Junaid dan Supratman.
Sebanyak 300 peserta dari berbagai unsur akan dilibatkan, mulai dari petani, penyuluh, mahasiswa, praktisi digital farming, hingga pemerintah daerah.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 di Sidrap melalui seminar internasional, lokakarya teknologi pertanian, hingga simulasi langsung di area persawahan.
Di tengah ancaman krisis pangan global, Sidrap kini mengirim pesan optimistis bahwa masa depan pertanian Indonesia tidak boleh tertinggal.
Dan dari tanah Bugis itu, revolusi pertanian modern mulai ditanam. (*)
