Sidrap, katasulsel.com β€” Tidak semua anak daerah berani bermimpi menembus dunia internasional. Lebih sedikit lagi yang mampu mewujudkannya.

Dirayanti adalah salah satunya.

Putri asal Amparita di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, ini membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal batas geografis. Berbekal ketekunan, disiplin, dan doa yang tak pernah putus, ia berhasil menapaki perjalanan akademik hingga ke Thailand, menjadi peneliti internasional, guru di Sekolah Indonesia Bangkok, hingga akhirnya meraih beasiswa bergengsi LPDP.

Perjalanannya bukan kisah tentang keberuntungan.

Ini adalah cerita tentang kerja keras.

Anak Desa yang Memilih Bertarung di Dunia Sains

Sejak kuliah di Program Studi Kimia Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dirayanti sudah menunjukkan minat besar pada dunia penelitian.

Di tengah kesibukan perkuliahan, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah nasional. Namanya mulai dikenal saat berhasil meraih Juara Harapan II National Scientific Paper Competition Agritech Exhibition 2020 dan menjadi finalis berbagai kompetisi ilmiah nasional.

Namun, bagi Dirayanti, penghargaan bukan tujuan utama.

Ia lebih tertarik pada proses belajar dan pencarian ilmu.

Lulus sebagai Sarjana Sains (S.Si), perempuan asal Bumi Nene Mallomo itu kemudian melanjutkan studi magister di Kasetsart University, Thailand, pada program Sustainable Energy and Resources Engineering yang berkolaborasi dengan Tokyo Institute of Technology, Jepang.

Di negeri gajah putih itulah tantangan sesungguhnya dimulai.

Menjadi Peneliti, Guru, dan Mahasiswa dalam Waktu Bersamaan

Kebanyakan mahasiswa pascasarjana memilih fokus pada kuliah dan tesis.

Dirayanti mengambil jalan berbeda.

Pada tahun kedua kuliahnya, ia dipercaya menjadi Research Assistant oleh profesornya dan terlibat dalam proyek penelitian bersama SCG Company Thailand, salah satu perusahaan industri terbesar di Asia Tenggara.

Belum selesai sampai di situ.

Di saat yang sama, Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) di bawah naungan KBRI Bangkok juga memberikan amanah kepadanya untuk mengajar sebagai Guru Kimia SMA sekaligus Guru IPA SMP selama satu semester.

Masih kurang sibuk?

Dirayanti tetap aktif dalam berbagai kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Thailand.

Penelitian jalan.

Mengajar jalan.

Kuliah jalan.

Organisasi juga jalan.

“Bagi saya, pencapaian terbesar bukan medali atau penghargaan. Saya justru bangga karena berhasil mengatur waktu dan menjalankan semua amanah itu dengan baik,” ujarnya.

Pernah Kesulitan IELTS

Banyak orang melihat hasil.

Sedikit yang mengetahui perjuangan di baliknya.

Salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi Dirayanti adalah saat mempersiapkan tes IELTS sebagai syarat kuliah dan beasiswa internasional.

Awalnya, ia belajar secara otodidak.

Hasilnya belum sesuai harapan.

Namun ia tidak menyerah.

Setelah mendapatkan mentor yang tepat dan terus berlatih, skor IELTS yang dibutuhkan akhirnya berhasil diraih.

Langkah kecil itu kemudian membuka pintu yang lebih besar.

Mulai dari beasiswa internasional TAIST Tokyo Tech Scholarship hingga berbagai kesempatan penelitian lintas negara.

Menulis Jurnal untuk Menjaga Mimpi

Di balik berbagai prestasinya, Dirayanti memiliki kebiasaan sederhana yang jarang diketahui banyak orang.

Ia rutin menulis jurnal harian di komputernya.

Semua hal ia tuliskan.

Mulai dari kegagalan, kekhawatiran, target hidup, hingga rasa syukur atas pencapaian yang berhasil diraih.

“Apapun yang saya keluhkan atau banggakan dalam proses mencapai impian, saya tulis di sana,” katanya.

Bagi Dirayanti, jurnal bukan sekadar catatan.

Itu adalah tempat berdialog dengan dirinya sendiri.

Pesan Orang Tua yang Tak Pernah Luntur

Di balik sosok Dirayanti yang kini dikenal sebagai akademisi muda berprestasi, terdapat dua sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Ayah dan ibunya.

Keduanya selalu mengajarkan pentingnya kerja keras dan tidak mudah menyerah.

Pesan itu terus melekat hingga sekarang.

Bahkan ada satu falsafah Bugis yang menjadi pegangan hidupnya.

“Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata.”

Hanya dengan kerja keras dan kesungguhan, rahmat Tuhan akan datang.

Menurut Dirayanti, petuah yang diwariskan oleh Nene Mallomo itu bukan sekadar kalimat bijak.

Melainkan prinsip hidup yang terus menuntunnya hingga hari ini.

Mimpi untuk Indonesia Emas 2045

Kini, setelah menempuh pendidikan, penelitian, dan pengalaman internasional, Dirayanti memiliki cita-cita yang lebih besar daripada sekadar karier pribadi.

Ia ingin ikut berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, khususnya di bidang pendidikan dan teknologi.

Baginya, ilmu pengetahuan harus kembali kepada masyarakat.

Harus memberi manfaat.

Harus menjadi jalan perubahan.

Kepada para pelajar dan mahasiswa di Sidrap, ia menitipkan pesan sederhana.

“Saya yakin masih banyak anak-anak Sidrap yang jauh lebih hebat dan memiliki mimpi yang lebih tinggi. Tetap percaya diri, terus berusaha, dan jangan pernah berhenti berdoa kepada Tuhan,” pesannya.

Dan mungkin, itulah inti dari kisah Dirayanti.

Bukan tentang seorang perempuan yang berhasil kuliah ke luar negeri.

Melainkan tentang seorang anak Sidrap yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari mana saja, selama ada keberanian untuk mengejarnya. (edybasri)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini