Makassar, katasulsel.com — Partai Golkar di Sulawesi Selatan memasuki fase paling panas jelang Musyawarah Daerah (Musda). Perebutan kursi Ketua DPD I kini tak lagi sekadar soal dukungan internal, tetapi juga tarik-menarik restu dari tingkat pusat.

Meski sejumlah nama sudah mulai ramai disebut, peta pertarungan politik di tubuh partai berlambang pohon beringin itu masih dinilai sangat cair.

Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said, menegaskan bahwa belum ada keputusan final terkait siapa yang akan diusung sebagai calon ketua.

Ia menepis anggapan bahwa kontestasi sudah mengerucut secara pasti pada dua figur tertentu.

“Pada akhirnya akan muncul satu nama yang disepakati secara mufakat. Semua kader dilibatkan,” ujarnya.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Namun di balik pernyataan itu, dinamika politik justru semakin menarik perhatian.

Nama Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari disebut-sebut sebagai dua figur yang paling sering dikaitkan dengan kursi ketua, setelah keduanya dikabarkan pernah bertemu dengan Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia di Jakarta.

Meski begitu, situasi tersebut belum dianggap sebagai garis akhir.

Di internal Golkar, terdapat mekanisme yang disebut “diskresi ketua umum” yang kerap menjadi penentu di menit-menit akhir. Mekanisme ini memungkinkan seorang kandidat tetap maju meski belum memenuhi seluruh syarat formal organisasi.

Hal inilah yang membuat peta Musda Golkar Sulsel disebut masih sangat terbuka.

“Kalau tidak ada diskresi, berarti tidak berkenan untuk maju,” ujar Muhidin, menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pusat.

Di sisi lain, pernyataan Plt Wakil Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Arief Rosyid, yang menyebut kandidat sudah mengerucut ke dua nama, justru menambah panas spekulasi di internal partai.

Perbedaan narasi ini membuat Musda Golkar Sulsel semakin menarik untuk diikuti.

Di satu sisi ada klaim “menguatnya dua nama”, di sisi lain ada penegasan bahwa semua masih bisa berubah sewaktu-waktu.

Di kalangan kader, situasi ini bahkan disebut sebagai “politik pintu terbuka”, di mana peluang bisa berubah hanya dalam satu keputusan tingkat pusat.

Kini, menjelang Musda, satu hal yang paling ditunggu bukan lagi siapa yang disebut unggul di awal, tetapi siapa yang benar-benar akan mendapat “restu akhir” dari DPP Golkar.

Dan di titik inilah, kejutan masih sangat mungkin terjadi. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.