Jakarta, katasulsel.com — Pernyataan mantan Ketua MPR RI, Amien Rais, kembali memancing polemik nasional.
Kali ini, kritik tajam yang ia lontarkan kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menudingnya sebagai gay, hingga menyeret nama Presiden Prabowo Subianto dianggap sudah melewati batas dan terlalu sensasional.
Reaksi keras datang dari Ketua Umum DPP Prabowo Mania 08, Akhmad Gojali Harahap.
Ia menilai pernyataan Amien Rais bukan lagi kritik politik biasa, melainkan sudah masuk wilayah fitnah dan opini liar yang tidak berbasis data.
Menurut Gojali, sosok Amien Rais yang dulu dikenal sebagai tokoh intelektual kini justru tampil dengan narasi yang dianggap lebih banyak memancing kontroversi ketimbang memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.
“Sebagai tokoh bangsa dan mantan Ketua MPR, pernyataan seperti itu sangat disayangkan. Terlalu jauh, terlalu liar, dan terkesan hanya mencari perhatian publik,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Gojali bahkan menyebut Amien Rais sedang berusaha kembali mendapat sorotan setelah pengaruh politiknya dianggap mulai memudar.
Ia menilai berbagai manuver yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir tidak lagi mendapat respons besar dari masyarakat.
Fenomena ini sebenarnya menarik dibaca dalam dinamika politik nasional. Dulu, nama Amien Rais dikenal sebagai salah satu tokoh reformasi yang suaranya selalu ditunggu publik. Namun di era media sosial yang bergerak cepat, pola komunikasi politik ikut berubah.
Pernyataan yang terlalu meledak-ledak kini justru sering dianggap sebagai upaya mencari sensasi, apalagi jika tidak disertai data kuat. Di tengah publik yang makin kritis, narasi tanpa dasar mudah dipatahkan dan berbalik menjadi bumerang.
Gojali menegaskan, kritik terhadap pemerintah tetap sah dalam demokrasi.
Namun menurutnya, kritik seharusnya dibangun dengan argumen yang sehat, bukan dengan isu yang memancing kegaduhan.
Ia juga menilai generasi muda saat ini sudah jauh lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh pernyataan-pernyataan provokatif tanpa bukti jelas.
“Kalau ingin tetap tampil di ruang publik, ya hadirkan gagasan yang cerdas. Jangan hanya melempar isu yang akhirnya bikin gaduh,” katanya.
Polemik ini kembali menunjukkan bahwa panggung politik Indonesia masih dipenuhi pertarungan opini dan pengaruh. Bedanya, kini publik tidak lagi hanya melihat siapa yang bicara, tetapi juga seberapa masuk akal isi ucapannya.(*)
