Jakarta, katasulsel.com – Pernyataan Amien Rais terkait Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kembali memicu perdebatan publik. Kali ini, kritik datang dari Gojali yang menilai ucapan mantan Ketua MPR itu justru mencederai citra intelektual yang selama ini melekat pada dirinya.

Menurut Gojali, publik mengenal Amien Rais bukan sekadar tokoh politik, tetapi juga figur akademisi yang selama puluhan tahun identik dengan gagasan dan argumentasi ilmiah. Karena itu, ia menyayangkan jika pernyataan yang muncul justru dinilai tidak berbasis data dan fakta yang jelas.

“Beliau dikenal sebagai intelektual. Jadi ketika menyampaikan sesuatu di ruang publik, masyarakat tentu berharap ada dasar yang kuat, bukan sekadar opini yang memancing polemik,” ujarnya.

Polemik ini kemudian berkembang menjadi perbincangan lebih luas di media sosial. Banyak yang menilai kritik dalam demokrasi memang penting, tetapi harus tetap disampaikan secara proporsional dan bertanggung jawab.

Di tengah era digital sekarang, setiap pernyataan tokoh publik bisa dengan cepat menyebar dan membentuk opini masyarakat. Karena itu, publik juga makin kritis dalam menilai apakah sebuah pernyataan benar-benar berbobot atau sekadar sensasi politik.

Gojali menegaskan bahwa tidak ada yang melarang kritik terhadap pemerintah maupun pejabat negara. Namun menurutnya, kritik akan lebih dihormati jika dibangun di atas data, riset, dan fakta yang jelas.

“Kalau kritik disampaikan dengan dasar yang kuat, publik juga akan menilai itu sebagai masukan yang sehat. Tapi kalau terlalu liar tanpa bukti, justru bisa merusak kualitas diskusi publik,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kini tidak lagi hanya melihat siapa yang berbicara, tetapi juga isi dan kualitas pernyataannya. Nama besar saja dianggap tidak cukup jika narasi yang disampaikan dinilai tidak memberi pencerahan.

Perdebatan soal ucapan Amien Rais pun akhirnya bukan sekadar soal politik, tetapi juga tentang bagaimana tokoh publik menjaga etika komunikasi dan tanggung jawab moral di depan masyarakat luas. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita