Makassar, katasulsel.com — Peta politik internal Partai Golkar Sulawesi Selatan berubah drastis.

Munafri Arifuddin (Appi), yang sebelumnya digadang-gadang sebagai kandidat kuat dengan dukungan luas dari DPD II, kini justru tersingkir dari radar utama setelah tidak mendapatkan sinyal dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Perkembangan ini mengejutkan banyak pihak.

Appi sebelumnya dikenal sebagai figur dengan basis dukungan paling solid di tingkat daerah.

Namun, realitas politik di tubuh Golkar kembali menunjukkan satu pola lama: dukungan akar rumput tidak selalu berbanding lurus dengan keputusan elite.

Dengan tersingkirnya Appi, kontestasi praktis mengerucut menjadi duel dua nama—Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Andi Ina Kartika Sari.

Ini bukan sekadar penyederhanaan kandidat, melainkan indikasi kuat adanya filter politik di level pusat yang menentukan siapa layak maju ke tahap akhir.

Dalam konteks ini, keputusan DPP bisa dibaca sebagai bentuk penataan ulang peta kekuasaan.

Appi, meski kuat secara horizontal, tampaknya tidak masuk dalam orbit strategis yang diinginkan pusat. Sementara IAS dan Andi Ina dinilai lebih kompatibel dalam kerangka konsolidasi nasional partai.

Fenomena ini mempertegas karakter Golkar sebagai partai dengan sistem kendali vertikal yang dominan. Proses demokrasi internal tetap berjalan, tetapi arah akhirnya sangat ditentukan oleh pusat sebagai ultimate decision maker.

Bagi Appi, ini bukan sekadar kegagalan dalam kontestasi, tetapi juga pelajaran politik penting: bahwa dalam struktur partai modern, akses dan komunikasi politik ke pusat sama pentingnya dengan dukungan di daerah.

Di sisi lain, tersingkirnya satu kandidat kuat justru membuat kontestasi lebih tajam. Duel IAS vs Andi Ina kini menjadi pertarungan terbuka antara dua kekuatan besar—pengalaman versus regenerasi, jaringan lama versus perluasan pengaruh.

Namun, di balik itu, ada risiko yang mulai mengemuka: potensi kekecewaan di basis pendukung Appi. Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa berubah menjadi friksi internal yang mengganggu konsolidasi partai ke depan.

Golkar Sulsel kini berada di fase krusial. Bukan hanya soal siapa yang akan memimpin, tetapi bagaimana partai ini mengelola dampak dari keputusan besar yang telah diambil.

Karena dalam politik, keputusan yang mengejutkan sering kali bukan masalah utama—yang menentukan adalah bagaimana dampaknya diredam atau justru membesar menjadi gelombang baru. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.