Kendari, Katasulsel.com — Di tengah gemerlap tempat hiburan malam, sebuah cerita lain muncul ke permukaan.

Bukan tentang musik atau keramaian, melainkan pengalaman tidak menyenangkan yang diungkap seorang perempuan muda berinisial YA.

Mantan Sales Promotion Girl (SPG) itu mengaku mengalami perlakuan yang membuatnya tidak nyaman saat bekerja di Queen Karaoke.

Sosok yang disebut dalam pengakuannya merupakan atasan di lokasi tersebut.

Peristiwa itu dikatakan terjadi pada awal Maret 2026.

Saat itu, YA sedang berada di area bar ketika interaksi yang awalnya biasa berubah menjadi situasi yang ia rasakan melampaui batas kenyamanan pribadi.

Ia menggambarkan adanya kontak fisik yang tidak diharapkan. Dalam kondisi tersebut, YA memilih menjauh untuk menghindari situasi yang semakin tidak terkendali.

Pengalaman itu, menurutnya, tidak berdiri sendiri.

Ia mengaitkannya dengan dinamika hubungan kerja yang sebelumnya sudah diwarnai ajakan personal yang tidak ia terima.

Setelah penolakan, suasana kerja disebut berubah, menghadirkan tekanan yang membuatnya memilih pergi.

YA juga menyebut adanya cerita serupa dari pekerja lain, meski tidak banyak yang bersedia berbicara terbuka.

Lingkungan kerja yang tidak nyaman kerap membuat persoalan berhenti di level personal tanpa penyelesaian yang jelas.

Upaya mempertemukan kedua pihak sempat dilakukan.

Namun, pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepahaman. Perbedaan pandangan justru semakin memperlebar jarak antara pihak-pihak yang terlibat.

Merasa perlu ada kejelasan, YA membawa persoalan ini ke ranah resmi dengan melibatkan Polda Sulawesi Tenggara.

Langkah ini diambil sebagai bentuk upaya mencari kepastian atas apa yang ia alami.

Hingga kini, belum ada pernyataan terbuka dari pihak yang disebut dalam pengakuan tersebut. Situasi ini menyisakan ruang bagi proses klarifikasi dan penelusuran lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas yang tampak biasa, ada aspek kenyamanan dan batas pribadi yang tidak boleh diabaikan.

Ruang kerja, dalam bentuk apa pun, menuntut adanya rasa aman—sesuatu yang kini kembali menjadi sorotan. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita