Ada yang bilang, dapat cuan besar itu gampang. Tinggal bikin website portal berita.
Tinggal copy berita, tempel iklan, lalu uang ngalir.

Oleh: Edy Basri

Kalimat pembuka di atas, enak sekali di baca ya. Tapi tidak se-simpel itu juga sih.

Sebab, kalau begitu mudah, semua orang, terutama pemilik media online sudah kaya semuanya.

Faktanya? Tidak begitu.

Saya justru lebih sering lihat yang “boncos halus”. Jalan terus, tapi dompet tetap tipis. Contohnya, saya, hee…

Mari kita bicara angka. Biar tidak kebanyakan halu deh.

Dari iklan seperti Google AdSense, penghasilan itu tidak dihitung dari “niat”. Tapi dari tayangan.

Seribu orang baca, baru dihitung. Itu pun nilainya kecil.

Di Indonesia, rata-rata cuma belasan ribu.

Artinya, kalau mau dapat Rp5 juta sehari, pembacanya harus ratusan ribu.

Bukan ratusan. Bukan ribuan. Tapi ratusan ribu.

Di titik ini, biasanya orang mulai diam.

Lalu muncul pertanyaan klasik:
“Berarti harus bikin artikel banyak?”

Jawabannya: iya, tapi tidak cukup.

Di dunia portal berita, yang menang itu bukan yang paling rapi. Tapi yang paling cepat.

Ada istilahnya: siapa cepat, dia dapat klik.

Makanya mereka standby di sumber-sumber panas seperti Google Trends dan Twitter.

Begitu ada yang mulai naik, langsung ditulis. Kadang belum lengkap, tapi sudah tayang.

Yang penting duluan. Urusan sempurna belakangan.

Agak kejam memang. Tapi begitulah permainan trafik.

Yang lebih mengejutkan lagi, pembaca itu tidak selalu datang dari Google.

Banyak portal hidup dari “keramaian sosial”.

Sekali viral di Facebook, trafik bisa meledak.
Ditambah dorongan dari TikTok, bisa jadi “banjir klik”.

Belum lagi kalau sudah masuk Google News.
Itu seperti dapat jalur tol. Lancar.

Ada juga yang salah kaprah soal iklan.

Dikira makin banyak iklan, makin kaya.

Padahal tidak begitu.

Kalau kebanyakan, pembaca kabur. Kalau terlalu sedikit, penghasilan tipis.

Ini seni. Bukan sekadar pasang.

Portal yang sudah “matang” tahu betul di mana harus menaruh iklan. Tidak terlihat memaksa, tapi tetap menghasilkan.

Soal topik juga sering bikin salah langkah.

Semua ingin viral. Tapi lupa nilai.

Berita yang ramai belum tentu mahal.
Yang “sepi tapi bernilai” justru sering lebih cuan.

Topik seperti keuangan atau teknologi sering jadi ladang basah.
Pengiklannya berani bayar mahal.

Ini bukan soal idealisme. Ini soal dapur tetap ngebul.

Yang paling jarang dibicarakan: sumber uang sebenarnya.

Banyak yang mengira portal hidup dari iklan.

Padahal, di belakang layar, ada yang namanya “kerja sama”.

…………

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.