Makassar katasulsel.com— Seperti lembaran lama yang tak sempat dirapikan, kumpulan puisi karya M. Amir Jaya kembali menemukan jalannya ke ruang publik.

Buku bertajuk “Senandung Sunyi (Sajak-sajak dari Makassar)” hadir bukan sekadar sebagai karya, melainkan rekam jejak waktu yang nyaris hilang.

Peluncuran dan diskusinya berlangsung di Kafebaca, menghadirkan suasana yang lebih dari sekadar bedah buku. Ia menjadi ruang temu antara ingatan, kehilangan, dan upaya merawat jejak literasi yang nyaris terhapus.

Karya ini merangkum 116 puisi yang ditulis dalam rentang panjang, sejak 1986 hingga 2008.

Sebagian besar lahir dari kebiasaan sederhana: menulis di mana saja, tanpa rencana arsip yang rapi. Akibatnya, banyak naskah hilang, tersisa hanya potongan yang berhasil diselamatkan dari waktu.

Versi awal buku ini sebenarnya pernah terbit secara terbatas pada tahun 2000 dengan judul berbeda. Namun distribusinya yang minim membuatnya nyaris tenggelam.

Kini, dengan wajah baru dari Bambu Press, karya tersebut kembali diperkenalkan ke publik dengan judul yang lebih personal: “Makassar, Aku Ingin Menyulammu”.

Judul itu bukan sekadar pilihan estetika. Ia lahir dari satu puisi yang justru membangkitkan kembali kesadaran penulis saat membaca ulang karyanya sendiri.

Dari situ, muncul dorongan untuk merakit ulang serpihan lama menjadi satu kesatuan yang utuh.

Proses ini tidak mudah. Sebagian naskah harus diketik ulang dari tulisan tangan, bahkan dari mesin ketik lama yang jejaknya hampir pudar.

Dalam proses itu, peran keluarga ikut terlibat, membantu menghidupkan kembali kata-kata yang nyaris hilang.

Lebih dari sekadar kumpulan puisi, buku ini menjadi semacam catatan perjalanan batin.

Ia tidak menawarkan kemewahan bahasa, melainkan kejujuran pengalaman—tentang apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kelahiran ulang karya ini juga menjadi penanda bahwa sastra tidak selalu hadir dari ruang besar. Ia bisa tumbuh dari catatan kecil, dari kebiasaan mencoret, dari kegelisahan yang sederhana.

Di tengah arus cepat budaya digital, kemunculan kembali “Senandung Sunyi” menjadi pengingat bahwa ada karya-karya yang mungkin sempat hilang, tetapi tidak pernah benar-benar mati.

Mereka hanya menunggu waktu untuk kembali ditemukan. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita