Makassar, katasulsel.com — Di antara 444 lulusan yang dikukuhkan pada Wisuda ke-22 ITKES Muhammadiyah Sidrap di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Sabtu (9/5/2026), ada satu nama yang menyisakan cerita khas mahasiswa kesehatan yang “hidup di dua dunia”: akademik dan organisasi.
Ia adalah Ns. Kirana, S.Kep, lulusan Program Profesi Ners.
Perempuan asal Pangkajene, Kabupaten Sidenreng Rappang ini menuntaskan studinya selama 4,5 tahun sejak masuk kuliah pada 2021. Anak pertama dari lima bersaudara ini tumbuh dengan tanggung jawab yang tidak ringan di pundak keluarga.
Ibunya, Hj. Rusna, dan ayahnya, Abd Muis, menjadi dua figur yang ia sebut sebagai sumber kekuatan utama.
“Alhamdulillah, saya sangat bahagia dan bersyukur bisa sampai di titik ini,” ujarnya singkat, namun sarat emosi.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Namun perjalanan Kirana tidak bisa dibaca hanya dari lembar akademik.
Di kampus, ia dikenal aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia pernah menjabat Ketua PIKOM IMM FKK ITKESMU Sidrap periode 2023–2024, lalu dipercaya sebagai Ketua Bidang Kesehatan IMM Sidrap periode 2025–2026.
Dunia organisasi itu, menurutnya, adalah “kelas kedua” yang justru paling membentuk dirinya.
“Tantangan terbesar saya adalah manajemen waktu antara kuliah, praktik, dan organisasi,” katanya.
Di jurusan profesi Ners, ritme akademik memang tidak ringan. Ada praktik klinik, tugas asuhan keperawatan, hingga ujian kompetensi. Di saat yang sama, Kirana harus hadir dalam dinamika organisasi yang menuntut kepemimpinan dan konsistensi.
Namun justru di titik itulah ia merasa bertumbuh.
“Pengalaman di IMM selama empat tahun sangat mengasah nilai kepemimpinan saya,” ujarnya.
Ia belajar bahwa dunia kesehatan bukan hanya soal teori medis, tetapi juga soal komunikasi, empati, dan kemampuan mengambil keputusan.
Bagi Kirana, IMM menjadi ruang pembentukan karakter sebelum benar-benar masuk ke dunia pelayanan kesehatan yang sesungguhnya.
Di balik semua aktivitasnya, ia tidak pernah lupa pada keluarga.
“Yang paling berjasa tentu kedua orang tua dan keluarga saya,” ucapnya.
Kini setelah resmi menyandang gelar Ners, Kirana tidak ingin berhenti pada titik wisuda.
Ia memilih jalan realistis sekaligus progresif: melanjutkan pendidikan sambil bekerja.
“Setelah ini saya ingin lanjut pendidikan lagi sambil bekerja, supaya pengalaman saya di lapangan semakin banyak,” katanya.
Pilihan itu mencerminkan karakter banyak lulusan kesehatan hari ini: tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga pengalaman klinis dan jam terbang profesional.
Kisah Kirana menjadi salah satu potret dari wajah baru lulusan ITKES Muhammadiyah Sidrap—generasi yang ditempa di ruang kuliah, ruang praktik, dan ruang organisasi.
Dan di balik toga yang ia kenakan hari itu, ada satu hal yang tidak tertulis di ijazah: perjalanan panjang seorang anak pertama yang belajar bertahan, memimpin, dan akhirnya siap mengabdi.(*)
