Bekasi — Di balik kebiasaan sederhana minum air putih yang dianggap cukup untuk menjaga kesehatan, seorang perempuan muda asal Bekasi, Sema Chintya, justru harus menerima kenyataan pahit: ia divonis mengalami gagal ginjal stadium 5 di usia yang masih produktif.

Semua berawal dari gejala yang tampak sepele namun perlahan berubah menjadi sinyal bahaya yang tidak disadari. Tubuhnya mulai memberi tanda lewat perubahan fisik yang dianggap biasa saja pada awalnya.

Sema mengaku kaget ketika dokter menyampaikan diagnosis tersebut pada 2024 lalu. Sebelumnya, ia hanya merasakan keluhan ringan seperti sakit kepala, tubuh lemas, hingga muncul lebam di beberapa bagian tubuh secara tiba-tiba.

Salah satu tanda yang paling ia ingat adalah perubahan pada wajahnya yang mulai tampak sembap dan muncul kantung mata yang tak kunjung hilang.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Ternyata kata dokter penyakit dalam, muka aku khas orang kena ginjal, yaitu edema atau penumpukan cairan di wajah,” ungkap Sema.

Namun di balik itu, kondisi tubuhnya ternyata sudah lama menyimpan masalah serius. Ia juga diketahui memiliki riwayat hipertensi dengan tekanan darah yang sangat tinggi, mencapai 193/129, bahkan sejak usia 25 tahun saat sedang hamil.

Meski sudah terdeteksi, ia mengaku saat itu belum menjalani pengobatan secara teratur. Edukasi tentang hipertensi yang minim membuatnya tidak menyadari bahwa kondisi tersebut bisa berdampak besar pada organ vital seperti ginjal.

Tujuh bulan sebelum diagnosis gagal ginjal ditegakkan, perubahan fisik sudah mulai terlihat jelas. Wajahnya tampak sembap, tubuh mudah lelah, hingga penurunan nafsu makan yang tidak biasa.

Namun gejala yang semakin berat baru benar-benar dirasakan sekitar satu bulan sebelum akhirnya dinyatakan mengalami gagal ginjal stadium lanjut.

“Gejalanya makin parah, badan lebam, mual, muntah, sampai berat badan turun tanpa sebab,” ceritanya.

Ia juga mengingat bahwa pemeriksaan kesehatan yang pernah dilakukan dua tahun sebelumnya sebenarnya sudah menunjukkan penurunan fungsi ginjal, yakni hanya tersisa sekitar 47 persen. Namun saat itu, ia belum memahami sepenuhnya kondisi tersebut.

Kini, pengalaman itu menjadi pelajaran besar baginya tentang pentingnya menjaga tekanan darah dan tidak mengabaikan tanda-tanda kecil yang muncul di tubuh.

Sema mengakui, kebiasaan mengabaikan sakit kepala, stres, dan tekanan psikologis juga turut memperburuk kondisi kesehatannya.

Para ahli kesehatan menjelaskan, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah secara perlahan, termasuk di ginjal. Kerusakan tersebut dapat mengganggu fungsi penyaringan cairan dan limbah dalam tubuh, hingga akhirnya berujung pada gagal ginjal kronis.

Kondisi ini bahkan membentuk siklus berbahaya: ginjal yang rusak memperburuk tekanan darah, dan tekanan darah tinggi kembali memperparah kerusakan ginjal.

Kisah Sema menjadi pengingat bahwa penyakit serius tidak selalu datang dengan gejala yang langsung terasa berat. Kadang, ia hadir perlahan, menyamar dalam keluhan kecil yang sering diabaikan. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.