CATALUNYA — Moto3 Catalunya 2026 kembali jadi panggung yang memperlihatkan satu hal penting tentang Veda Ega Pratama: dia bukan tipe pembalap yang menunggu keadaan ideal untuk mulai menyerang.
Start dari posisi ke-20, Veda justru menjadikan situasi itu sebagai “peta jalan” untuk balapan agresif. Di tengah grup Moto3 yang rapat, panas, dan penuh slipstream, ia langsung masuk ke mode menyerang sejak lap pertama.
Begitu lampu start padam, Veda tidak memilih aman. Ia langsung memotong jalur balap dengan kalkulasi cepat, naik posisi demi posisi. Dalam hitungan singkat, 17 pembalap di depannya berhasil dilewati. Di paddock, ritme seperti ini jarang terjadi tanpa risiko—tapi Veda justru menjadikannya bagian dari strategi.
Di lap-lap awal Catalunya, terlihat jelas bagaimana ia membaca celah. Moto3 bukan soal motor paling kencang, tapi soal siapa yang paling berani mengambil ruang sempit. Dan di titik ini, Veda tampil cukup “berani tanpa ragu”.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Grup tengah yang padat tidak membuatnya kehilangan arah. Justru setiap lap, ia terlihat semakin nyaman berada di dalam kerumunan. Beberapa kali ia melakukan late braking di tikungan, memanfaatkan slipstream panjang di lintasan Catalunya yang memang terkenal cocok untuk duel rapat.
Namun balapan tidak selalu linear. Setelah sempat merangsek ke posisi 9, Veda beberapa kali harus turun lagi akibat pertarungan posisi yang sangat ketat. Di Moto3, satu kesalahan kecil saja bisa langsung membuat kehilangan 2–3 posisi dalam satu sektor.
Tapi yang menarik, Veda tidak terlihat panik. Ia tetap menjaga ritme, menunggu momen, lalu kembali menyerang ketika peluang terbuka.
Di fase akhir balapan, ketika banyak rider mulai bermain aman, justru Veda kembali meningkatkan intensitas. Ia masuk lagi ke grup depan, lalu mengunci posisi 8 setelah duel rapat hingga lap terakhir.
Kalau dilihat dari pola balapan, ini bukan sekadar race yang “naik turun posisi”, tapi race yang menunjukkan satu karakter: pembalap yang tidak kehilangan agresivitas meski sempat terlempar.
Dari sinilah kemudian muncul sorotan lain di paddock: julukan baru yang mulai melekat padanya.
Honda Team Asia menyebutnya dengan istilah “Boeing 954”. Nama ini sebelumnya juga muncul setelah aksi comeback-nya di Le Mans, saat ia melesat dari posisi 14 ke 4. Kini, di Catalunya, karakter itu kembali terlihat: start jauh di belakang, lalu menembus grup depan dengan kecepatan konsisten.
Julukan itu bukan sekadar gimmick media sosial. Dalam konteks balap, ini menggambarkan satu hal: kemampuan “menerobos grup” dengan kecepatan stabil, bukan hanya sekadar sprint satu-dua lap.
Di Catalunya, hal itu kembali terlihat. Veda tidak hanya cepat saat sendirian, tapi juga cukup kuat ketika harus bertarung roda ke roda dalam grup besar—sesuatu yang biasanya jadi pembeda di Moto3.
Jika ditarik lebih dalam, pola ini mulai membentuk identitas balapnya. Bukan pembalap yang selalu start di depan, tapi pembalap yang justru berbahaya ketika harus mengejar.
Dan di usia yang masih sangat muda, kombinasi hasil, gaya balap, dan julukan seperti “Rocket Boys” hingga “Boeing 954” perlahan membangun narasi yang lebih besar: Veda bukan hanya sekadar rider muda Indonesia di Moto3, tapi sedang membangun reputasi sebagai salah satu “comeback racer” yang konsisten muncul di grup depan ketika balapan mulai kacau.
Update terbaru: 18 Mei 2026 21:09 WIB
