Kendari, katasulsel.com β€” Kota itu tumbuh cepat. Restoran bertambah. Penduduk makin padat. Program Makan Bergizi Gratis mulai bergerak. Tapi ada satu masalah lama yang belum selesai: pangan.

Kendari ternyata belum cukup kuat memberi makan dirinya sendiri.

Karena itu, Jumat siang, Pemerintah Kota Kendari memilih mengetuk pintu Sidenreng Rappang. Daerah yang sejak lama dikenal sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan. Tempat sawah membentang. Ayam petelur hidup seperti mesin tanpa tidur.

Kerja sama itu resmi diteken lewat nota kesepahaman perdagangan antardaerah antara Pemkot Kendari dan Pemkab Sidrap. Fokusnya sederhana tapi vital: beras dan telur.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Angkanya bikin banyak orang terdiam.

Kebutuhan telur untuk program MBG di Kendari mencapai sekitar 98 ribu butir per hari. Itu baru untuk kebutuhan makan bergizi gratis. Belum restoran. Belum hotel. Belum kebutuhan rumah tangga warga kota.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengakui daerahnya memang membutuhkan sokongan pangan dari luar.

Ia menyebut Sidrap sebagai daerah dengan kemampuan pangan yang sudah teruji. Produksi besar. Stabil. Dan punya pengalaman panjang menjaga swasembada.

Di sisi lain, Syaharuddin Alrif langsung memberi sinyal siap tempur.

Beras siap dikirim. Telur siap dipasok.

Bupati yang sering dijuluki β€œanak petani” itu bahkan melihat kerja sama ini bukan sekadar jual beli bahan pokok. Ada jalur ekonomi baru yang mulai dibuka antara Sidrap dan Kendari.

Apalagi ribuan warga asal Sidrap sudah lama bermukim di Kendari. Mereka bisa menjadi penghubung distribusi sekaligus pasar alami bagi komoditas dari Bumi Nene Mallomo.

Menariknya, pertemuan itu bukan cuma soal telur dan beras.

Ada saling kagum di sana.

Kendari ingin belajar soal kekuatan pangan Sidrap. Sementara Syahar justru mengaku tertarik mempelajari penataan Kota Kendari yang dinilainya berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Ini bukan lagi sekadar kerja sama administratif.

Ini pertukaran kekuatan.

Satu daerah punya sawah dan peternakan. Satu daerah punya pertumbuhan kota dan pasar besar.

Dan di tengah ancaman krisis pangan serta naik-turunnya harga kebutuhan pokok, kolaborasi seperti ini mulai terasa bukan pilihan tambahan.

Tapi kebutuhan. (wis)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita