Sidrap, Katasulsel.com — Setelah enam tahun “tertidur”, denyut sepak bola di Bumi Nene Mallomo akhirnya kembali terasa. Stadion Ganggawa menjadi saksi dimulainya Sidrap Cup 2026, turnamen sepak bola paling bergengsi di kawasan Ajatappareng yang resmi dibuka, Rabu (3/6/2026).

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, membuka langsung kick-off turnamen yang diawali laga ekshibisi. Sorak penonton mengiringi awal kompetisi yang disebut-sebut sebagai momentum kebangkitan sepak bola daerah.

Sebanyak 24 tim terbaik ambil bagian dalam ajang ini. Mereka datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, termasuk Makassar, Parepare, Wajo, Soppeng, Bone, hingga perwakilan Sulbar. Selama hampir satu bulan, mulai 3 hingga 27 Juni 2026, seluruh tim akan bertarung memperebutkan total hadiah Rp350 juta.

Ketua Askab PSSI Sidrap, Abdul Rahman, menyebut Sidrap Cup bukan sekadar turnamen, tetapi upaya menghidupkan kembali atmosfer sepak bola yang sempat vakum cukup lama. Ia menilai, gairah sepak bola lokal perlu ruang kompetisi yang konsisten agar pembinaan pemain tidak terputus.

Di sisi lain, kehadiran turnamen ini juga menjadi panggung pembuktian bahwa Sidrap masih memiliki basis sepak bola yang kuat. Dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu faktor yang membuat kompetisi ini kembali bisa digelar.

Dalam sambutannya, Syaharuddin Alrif menegaskan bahwa Sidrap Cup adalah titik awal kebangkitan olahraga sepak bola di daerah tersebut. Ia menyoroti capaian Askab PSSI Sidrap yang sebelumnya berhasil menjuarai Liga Gubernur Sulawesi Selatan 2025 sebagai bukti bahwa potensi sepak bola Sidrap masih sangat besar.

Optimisme itu juga ia kaitkan dengan target pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan yang akan digelar di Bone dan Wajo. Sidrap, kata dia, diharapkan mampu bersaing dan minimal menembus tiga besar.

Namun di balik semangat kompetisi, ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai: infrastruktur olahraga. Pemerintah Kabupaten Sidrap saat ini tengah merencanakan pembenahan Stadion Ganggawa secara bertahap, dengan kebutuhan anggaran yang tidak kecil.

Perbaikan tribun saja diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp7 hingga Rp10 miliar, sementara total revitalisasi stadion dapat mencapai sekitar Rp15 miliar. Di sisi lain, pemerintah daerah masih harus membagi prioritas dengan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan desa.

Meski demikian, komitmen untuk tetap melakukan renovasi stadion tidak dikesampingkan. Pemerintah memastikan pembenahan tetap menjadi agenda jangka menengah, seiring ketersediaan anggaran daerah di tahun-tahun mendatang.

Kembalinya Sidrap Cup setelah vakum enam tahun pun disambut antusias masyarakat. Lebih dari sekadar turnamen, ajang ini diharapkan menjadi ruang lahirnya talenta-talenta muda sepak bola yang kelak mampu membawa nama Sidrap ke level provinsi hingga nasional. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita