📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Makassar, katasulsel.com — Makassar tampaknya tak mau terjebak pada satu kesalahan klasik: membangun stadion megah, lalu kebingungan menghidupkannya. Karena itulah Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memilih datang ke Jakarta International Stadium (JIS), Rabu (4/2/2026). Bukan untuk meniru bentuk, tapi mempelajari cara stadion bisa bertahan sebagai bisnis dan ruang publik.

Stadion Untia yang akan dibangun di Kecamatan Biringkanaya sejak awal diposisikan bukan sekadar arena sepak bola. Pemkot ingin stadion ini bekerja—menghasilkan aktivitas, perputaran ekonomi, dan daya tarik kota. Sebab, pengalaman banyak daerah menunjukkan, masalah stadion justru muncul setelah bangunan selesai.

Appi, sapaan Munafri, terang-terangan menyebut fokus kunjungan ini bukan pada beton, baja, atau atap raksasa. Yang dipelajari adalah urusan “belakang layar”: tata kelola, sistem perawatan, hingga bagaimana stadion bisa dipakai hampir setiap pekan tanpa merugi.

“Kita ingin stadion yang produktif,” kata Appi. Artinya jelas: stadion harus multifungsi. Bisa dipakai sepak bola, konser musik, pameran, hingga event berskala nasional. Jika hanya hidup saat pertandingan, stadion justru berubah jadi beban anggaran.

Di JIS, rombongan Pemkot Makassar diterima manajemen PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Mereka menggali detail yang jarang jadi bahan konferensi pers—mulai dari sistem keamanan, alur penonton, sampai manajemen rumput lapangan. Detail kecil, tapi menentukan besar kecilnya biaya operasional tahunan.

Langkah ini juga menandai keseriusan proyek Stadion Untia. Saat ini, pembangunan sudah masuk tahap lelang Manajemen Konstruksi (MK) melalui LPSE. Artinya, proyek tak lagi berhenti di konsep dan gambar perencanaan.

Soal lahan, Pemkot memilih mengamankan sejak awal. Kepala Dinas Pertanahan Makassar, Sri Sulsilawati, memastikan sekitar 23 hektare lahan telah bersertifikat dan mengantongi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR). Tidak ada ruang untuk sengketa di tengah jalan.

Dengan belajar dari JIS, Pemkot Makassar tampaknya ingin mematahkan stigma stadion daerah: besar di awal, sepi di kemudian hari. Stadion Untia diarahkan menjadi ruang publik modern—tempat olahraga, hiburan, dan ekonomi kreatif bertemu.

Makassar tak sedang membangun monumen. Yang ingin diciptakan adalah ekosistem. Dan dari Jakarta, Appi membawa satu pesan pulang: stadion tak boleh hanya berdiri gagah, tapi harus hidup setiap hari.