📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, Katasulsel.com — Makassar sedang menarik napas panjang, lalu merapikan diri. Rabu (4/2/2026), Pemerintah Kota Makassar kembali menertibkan Pedagang Kaki Lima (PK5) di dua ruas yang selama ini padat aktivitas: Jalan Maipa dan Jalan Datu Museng. Bukan operasi dadakan, bukan pula aksi kejar-kejaran. Kali ini penertiban berlangsung senyap, rapi, dan tanpa gesekan.
Trotoar yang lama berubah fungsi perlahan dikosongkan. Badan jalan yang menyempit mulai dibuka kembali. Di lapangan, aparat kecamatan Ujung Pandang bersama Satpol PP bekerja tanpa nada tinggi. Para pedagang pun memilih bekerja sama. Kota seperti sepakat: penataan memang harus jalan.
Camat Ujung Pandang Andi Husni menyebut langkah ini sebagai upaya mengembalikan fungsi ruang publik. Trotoar, katanya, bukan sekadar ruang sisa, melainkan hak dasar pejalan kaki—termasuk penyandang disabilitas yang kerap terpinggirkan oleh lapak dan parkir liar.
Yang menarik, penertiban ini nyaris tanpa drama. Tidak ada keributan, tidak ada penolakan terbuka. Situasi kondusif itu justru menjadi penanda penting: pendekatan persuasif yang dilakukan sebelumnya mulai menunjukkan hasil. Aturan ditegakkan, tapi manusia tetap dihargai.
Penataan PK5 kali ini juga menjadi potret gaya kerja Pemkot Makassar di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin. Pemerintah tidak hanya hadir lewat surat edaran dan spanduk imbauan, tapi turun langsung memastikan kebijakan berjalan di lapangan. Tegas, tapi tidak kasar.
Bagi Pemkot, penertiban bukan semata soal ketertiban visual. Ini soal keadilan ruang. Ketika trotoar kembali ke fungsinya, kota menjadi lebih ramah—bukan hanya bagi pejalan kaki, tapi juga bagi lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas yang selama ini paling terdampak.
Penertiban di Jalan Maipa dan Datu Museng hanyalah satu titik dari agenda besar penataan kota. Harapannya, langkah serupa bisa menjalar ke wilayah lain, dengan pola yang sama: sosialisasi lebih dulu, pendekatan manusiawi, lalu penegakan aturan.
Makassar sedang belajar satu hal penting: kota yang tertib tidak harus dibangun dengan bentakan. Cukup dengan konsistensi, komunikasi, dan keberanian mengembalikan ruang publik ke pemiliknya.
Reporter : Poufy Annisa
Editor: Darwis Lenggang
COPYRIGHT © KATASULSEL 2026






Tinggalkan Balasan