📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Makassar, Katasulsel.com — Hidup memang kadang seperti film laga. Plot twist-nya tak terduga. Suryadi Mas’ud pernah berdiri di lingkaran paling gelap: jaringan terorisme internasional.

Namanya disebut-sebut sebagai “Duta Besar ISIS Asia Tenggara”. Ia keluar masuk negara, merancang strategi, melatih militer, merakit bom.

Kini? Ia berdiri di depan papan nama Yayasan Rumah Moderasi Makassar (YRMM). Bukan lagi bicara “jihad versi senjata”, tapi soal UMKM, kopi, dan integrasi sosial.

Transformasinya bukan kisah instan. Ia pernah terlibat dalam serangan bom dan aksi bersenjata, termasuk insiden McDonald’s Makassar 2002, menjadi pemasok bahan bom untuk Bom Bali I, hingga terseret dalam pusaran aksi berdarah Sarinah Thamrin 2016.

Jejaknya sampai ke kamp pelatihan di Janto, Aceh, dan Mindanao, Filipina Selatan.

Suryadi menguasai berbagai jenis senjata api dan teknik perakitan bom. Ia disebut-sebut sebagai perancang strategi dan pelatih militer di jaringan ISIS kawasan ASEAN.

Lalu semuanya runtuh.

Vonis penjara membawanya ke Nusakambangan. Di balik jeruji itulah, proses deradikalisasi berjalan. Ia mengikuti program pembinaan hingga akhirnya bebas bersyarat pada 13 Februari 2023.

Pertengahan 2023, di kampung halamannya di Malua, Kabupaten Enrekang, ia membuat pernyataan terbuka: bersumpah setia kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945. Langkah yang membuatnya “dicoret” oleh eks jejaring lamanya.

“Hijrah total,” begitu istilah yang kini sering ia pakai.

Sejak itu, ia aktif bekerja sama dengan jajaran Dit Intelkam Polda Sulsel dan Densus 88 AT. Dari diskusi kecil hingga forum edukasi pencegahan radikalisme.
Awal 2025, gagasan besarnya lahir.

Dengan dukungan Direktur Intelkam Polda Sulsel Kombes Pol Hajat Mabrur Bujangga dan Kasatgaswil Densus 88 AT wilayah Sulsel, berdirilah Yayasan Rumah Moderasi Makassar.

YRMM bukan sekadar kantor. Ia menjadi “rumah aman” bagi 80 eks napiter. Tempat mereka belajar berdamai dengan masa lalu dan berdiri lagi secara ekonomi.
Di sana ada kedai kopi, produksi kue tradisional, layanan potong ayam, servis handphone, bengkel, hingga pencucian motor. Istilah populernya: “move on produktif”.

Personel Subdit Kamneg Dit Intelkam dan Densus 88 AT rutin melakukan pembinaan. Fokusnya jelas: jangan sampai mantan kombatan ini kembali terseret arus radikalisme.

Pertengahan Maret 2026, babak baru kembali dimulai. Suryadi bersama 11 eks napiter dan 32 anggota keluarga akan menjadi relawan SPPG Polri. Mereka akan melayani sekitar 3.000 siswa SD dan SMP dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Dari tangan yang dulu merakit bom, kini menyajikan makanan bergizi untuk anak sekolah.

“Saya menyesali seluruh tindakan masa lalu dan ingin memberi kontribusi positif. Rumah Moderasi Makassar adalah bukti bahwa orang bisa berubah,” ujar Suryadi.

Ia bahkan berencana, setelah masa bebas bersyaratnya berakhir 9 Maret 2026, akan touring keliling Sulawesi Selatan. Misinya personal: mendatangi keluarga murid-murid yang dulu ia rekrut, meminta maaf langsung. Tanpa kamera. Tanpa seremoni.

Direktur Intelkam Polda Sulsel, Kombes Pol Hajat Mabrur Bujangga menegaskan, pendekatan deradikalisasi harus komprehensif. Bukan sekadar pengawasan, tapi pemberdayaan.

“Pencegahan dan deteksi dini ancaman radikalisme tetap prioritas. Tapi pembinaan ekonomi dan sosial juga kunci,” tegasnya.

YRMM kini menjadi laboratorium sosial. Model deradikalisasi berbasis komunitas yang diharapkan bisa menjadi contoh di Sulawesi Selatan.

Kisah Suryadi Mas’ud tentu tidak menghapus luka masa lalu. Tapi di tengah kerasnya stigma, ia memilih satu hal: berubah.

Dan mungkin, di situlah pertarungan terbesarnya dimulai. (*)