MAMUJU – Angka itu langsung mencuri perhatian: 15.700 ton. Itulah total stok beras yang saat ini tersedia di gudang Perum Bulog Cabang Mamuju untuk wilayah Sulawesi Barat menjelang Ramadan hingga pasca Idul Fitri 1447 Hijriah.

Jumlah tersebut bukan sekadar angka di atas kertas. Stok itu tersebar di seluruh gudang Bulog di Sulbar dan diklaim memiliki ketahanan lebih dari satu tahun.

Asisten Manajer Supply Chain & Pelayanan Publik Bulog Mamuju, Abdul Kasim, memastikan kondisi cadangan pangan dalam posisi aman menghadapi lonjakan kebutuhan selama bulan puasa dan Lebaran.

“Untuk memasuki bulan puasa hingga pasca Lebaran, ketersediaan stok masih cukup dan aman,” ujarnya saat dialog di RRI Mamuju, Selasa 24 Februari 2026.

Dari total 15.700 ton tersebut, sekitar 1.900 ton berada di wilayah Kabupaten Mamuju. Angka ini dinilai cukup untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengantisipasi peningkatan konsumsi masyarakat.

Jika dihitung secara logistik, stok belasan ribu ton dengan ketahanan lebih dari 12 bulan menunjukkan posisi cadangan yang relatif kuat. Dalam manajemen rantai pasok, kondisi ini sering disebut sebagai buffer stock yang sehat—cadangan yang mampu meredam gejolak distribusi maupun lonjakan permintaan.

Menariknya, cadangan tersebut masih berpotensi bertambah. Bulog Mamuju mulai menyerap gabah petani seiring masuknya masa panen, khususnya di Kecamatan Tommo dan Sampaga, Kabupaten Mamuju. Artinya, suplai baru mulai masuk di saat kebutuhan meningkat.

Dari sisi kualitas, Abdul Kasim menjelaskan bahwa daya tahan beras pada umumnya berkisar antara enam bulan hingga satu tahun, tergantung perawatan dan kondisi gudang. Dengan sistem penyimpanan yang terjaga, kualitas beras dipastikan tetap layak hingga waktu distribusi.

Sebagian stok yang ada akan digunakan untuk penyaluran bantuan pangan, sementara sisanya difungsikan sebagai instrumen stabilisasi pasokan dan harga selama Ramadan dan Idul Fitri.

Dengan angka 15.700 ton dan tambahan serapan gabah di masa panen, Sulawesi Barat memasuki Ramadan 2026 dengan cadangan yang terukur. Tinggal bagaimana distribusi dan pengawasan berjalan konsisten agar angka besar itu benar-benar terasa manfaatnya di meja makan masyarakat.