Pinrang, Katasulsel.com — alan menuju kawasan pegunungan di Kabupaten Pinrang itu tidak selalu mulus.
Sebagian harus ditempuh melewati jalur berbukit, menembus wilayah yang selama ini dikenal sebagai kantong mualaf.
Namun bagi tim Mualaf Learning Center (MLC) Muhammadiyah Sulawesi Selatan, perjalanan itu bukan sekadar kunjungan. Mereka datang membawa peta baru: memetakan kebutuhan pembinaan yang selama ini tersembunyi di balik sunyinya kampung-kampung mualaf.
Tim MLC Muhammadiyah Sulsel turun langsung menyisir lima kampung mualaf di Pinrang.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Mereka tidak hanya mencatat jumlah warga atau kondisi sarana ibadah, tetapi juga menggali kebutuhan riil masyarakat, mulai dari pendidikan keagamaan, pendampingan keluarga, hingga penguatan ekonomi warga mualaf.
Langkah itu menjadi bagian dari model pembinaan baru yang kini dikembangkan Muhammadiyah melalui Mualaf Learning Center.
Pendekatannya tidak lagi berhenti pada proses syahadat, melainkan berlanjut pada pendampingan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Di sejumlah titik, tim menemukan kebutuhan yang beragam. Ada kampung yang membutuhkan guru mengaji tetap. Ada pula yang memerlukan penguatan pendidikan anak-anak serta bantuan fasilitas pembelajaran dasar Islam.
Sebagian warga juga berharap adanya program pemberdayaan ekonomi agar proses adaptasi sosial dan keagamaan berjalan lebih kuat.
Pinrang sendiri bukan wilayah asing bagi gerakan pembinaan mualaf Muhammadiyah.
Sejak beberapa tahun terakhir, kawasan Kampung Mualaf di wilayah Betteng, Kecamatan Lembang, telah menjadi lokasi berbagai program dakwah dan pendampingan, termasuk pengiriman mubalig hingga rencana pembangunan fasilitas pendidikan.
Bagi Muhammadiyah Sulsel, pemetaan ini menjadi fondasi penting sebelum menyusun program lanjutan.
Sebab setiap kampung memiliki tantangan berbeda. Ada yang membutuhkan pembinaan akidah lebih intensif, ada yang membutuhkan dukungan sosial, bahkan ada yang memerlukan penguatan ekonomi keluarga.
Model inilah yang kini menjadi fokus MLC Muhammadiyah, yakni memastikan para mualaf tidak berjalan sendiri setelah memeluk Islam.
Pendampingan dilakukan melalui pendidikan, pembinaan ibadah, penguatan mental, hingga pemberdayaan sosial ekonomi.
Di balik hamparan perbukitan Pinrang, lima kampung itu kini tidak hanya masuk dalam peta geografis.
Mereka mulai masuk dalam peta pembinaan yang disusun lebih serius. Sebuah ikhtiar agar dakwah tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir hingga ke rumah-rumah yang selama ini tumbuh jauh dari keramaian kota. (*)
