Tikke, Katasulsel.com — Tujuan mereka Palu.
Yang didapat justru jurang.
Begitulah nasib sebuah perjalanan yang semula terlihat biasa-biasa saja.
Bus itu berangkat membawa penumpang dari Sulawesi Selatan. Di dalamnya ada warga Sidrap. Ada pula warga Pinrang. Mereka menempuh perjalanan lintas provinsi dengan harapan yang sederhana: tiba di tujuan dengan selamat.
Namun di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Dusun Bukit Harapan, Desa Lariang, Kabupaten Pasangkayu, perjalanan itu mendadak berubah menjadi kepanikan.
Bus keluar jalur.
Lalu terjun ke jurang.
Semua terjadi begitu cepat pada Kamis, 9 Juli 2026, sore, sekira jam 3-an.
Menurut hasil olah TKP, penyebab awal kecelakaan diduga bukan karena sopir mengantuk.
Bukan karena hujan deras.
Bukan pula karena tabrakan dengan kendaraan lain.
Penyebabnya justru sesuatu yang sangat kecil.
Baut roda.
Diduga baut tersebut longgar lalu terlepas hingga kendaraan kehilangan kendali.
Sebuah ironi.
Puluhan orang melakukan perjalanan ratusan kilometer.
Nasib mereka ternyata bergantung pada benda kecil yang mungkin bahkan tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Baut.
Bagi penumpang asal Sidrap dan Pinrang, kejadian ini tentu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Mereka berangkat membawa rencana masing-masing.
Ada yang hendak bekerja.
Ada yang ingin menemui keluarga.
Ada yang sekadar pulang kampung.
Tetapi tak seorang pun berangkat dengan niat masuk jurang.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi umum tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pengemudi.
Kondisi kendaraan jauh lebih menentukan.
Karena sehebat apa pun sopir mengendalikan kemudi, kendaraan tetap akan berbahaya jika komponen vitalnya bermasalah.
Dan di sinilah persoalannya.
Sering kali pemeriksaan kendaraan dianggap urusan kecil.
Dilakukan sekadarnya.
Bahkan kadang hanya formalitas.
Padahal satu baut yang longgar bisa berujung pada satu bus yang masuk jurang.
Satlantas Polres Pasangkayu bergerak cepat melakukan olah TKP dan penyelidikan untuk memastikan penyebab kecelakaan.
Imbauan pun kembali disampaikan kepada seluruh pengusaha angkutan dan pengemudi agar memeriksa kondisi kendaraan sebelum beroperasi.
Imbauan yang terdengar sederhana.
Tetapi nilainya sangat mahal.
Karena setiap bus yang berangkat bukan hanya membawa barang.
Bukan hanya membawa kursi-kursi penuh penumpang.
Melainkan membawa harapan banyak keluarga.
Dan kemarin, harapan itu nyaris berakhir di dasar jurang.
Beruntung, kisah perjalanan warga Sidrap dan Pinrang tersebut tidak berubah menjadi tragedi yang lebih besar.
Namun satu pelajaran tetap tertinggal.
Di jalan raya, bahaya tidak selalu datang dari sesuatu yang besar.
Kadang ia datang dari sebuah baut yang dianggap remeh. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
