πŸ”₯ BREAKING NEWS TERKINI | Sidrap
Artikel terbaru Katasulsel.com wilayah Sulawesi Selatan

Sidrap, katasulsel.com — Ada kalimat menarik yang diucapkan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif (Syahar), Sabtu malam lalu.

“Dulu Sidrap daerah yang dilewati, sekarang sudah menjadi destinasi.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi menyimpan ambisi besar.

Sebab selama puluhan tahun, banyak daerah di Indonesia hidup dengan nasib yang sama: menjadi tempat orang lewat, bukan tempat orang berhenti.

Orang datang.

Mengisi bensin.

Makan sebentar.

Lalu melanjutkan perjalanan.

Uang ikut pergi bersama kendaraan yang berlalu.

Daerah hanya menjadi penonton.

Sidrap tampaknya tidak ingin lagi berada pada posisi itu.

Ia ingin menjadi tujuan.

Bukan sekadar jalur.

Bukan sekadar titik di peta.

Bukan sekadar nama yang disebut saat orang menuju daerah lain.

Tentu, mengubah status dari “daerah lintasan” menjadi “daerah tujuan” bukan pekerjaan mudah.

Tidak cukup dengan slogan.

Tidak cukup dengan baliho.

Tidak cukup dengan pidato.

Orang hanya akan datang jika ada alasan.

Dan alasan itu biasanya bernama peluang.

Peluang ekonomi.

Peluang investasi.

Peluang usaha.

Atau sekadar pengalaman yang menarik.

Karena itu, ketika Syaharuddin mengaitkan perubahan tersebut dengan pertumbuhan ekonomi, ada logika yang bisa dipahami.

Data BPS menunjukkan ekonomi Sidrap tumbuh 7,71 persen pada 2025.

Tertinggi di Sulawesi Selatan.

Angka itu tentu menggembirakan.

Apalagi, dibarengi dengan penurunan angka kemiskinan. Ini fakta

Namun angka ekonomi, sebaik apa pun, tetap tak membuat Syahar diam. Ia memilih terus di lapangan.

Karena ia paham, masyarakat tidak hidup dari statistik.

Mereka hidup dari penghasilan.

Dari peluang kerja.

Dari kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di titik ini, perubahan yang paling sering disebut adalah sektor pertanian.

Sidrap memang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan.

Jika pertanian tradisional mulai bergerak menuju pertanian modern, itu kabar baik.

Jika distribusi pupuk semakin lancar, itu juga kabar baik.

Karena ekonomi daerah yang kuat selalu bertumpu pada sektor yang benar-benar hidup di masyarakat.

Yang menarik dari pidato Syaharuddin malam itu justru bukan soal ekonomi.

Melainkan soal uang yang berputar di kampung sendiri.

Ia memberi contoh sederhana.

Pakaian dinas dijahit oleh penjahit lokal.

Belanja dilakukan di daerah sendiri.

Mobil dibeli di Sidrap.

Pesannya jelas.

Jangan biarkan uang Sidrap terlalu cepat keluar dari Sidrap.

Logika ini sebenarnya sangat tua.

Tetapi sering dilupakan.

Banyak daerah sibuk mencari investor dari luar, sementara pelaku usaha lokal justru kesulitan bertahan.

Padahal ekonomi yang sehat selalu dimulai dari penguatan pelaku usaha di rumah sendiri.

Tentu, klaim bahwa Sidrap kini menjadi destinasi masih membutuhkan waktu untuk diuji.

Destinasi bukan sesuatu yang bisa diputuskan melalui pidato.

Destinasi ditentukan oleh orang yang datang.

Jika orang terus berdatangan, menginap, berbelanja, berinvestasi, dan kembali lagi, maka status itu akan melekat dengan sendirinya.

Namun setidaknya, Sidrap hari ini sedang mencoba keluar dari zona lama.

Mencoba membangun identitas baru.

Mencoba meyakinkan publik bahwa daerah ini memiliki sesuatu yang layak dikunjungi.

Bahkan drag race 402 meter yang sedang dipersiapkan dan promosi kawasan Puncak Bila menunjukkan satu hal.

Sidrap sedang mencari banyak alasan agar orang mau datang dan tinggal lebih lama.

Karena pada akhirnya, daerah yang maju bukanlah daerah yang ramai dilintasi kendaraan.

Melainkan daerah yang mampu membuat orang berhenti.

Datang.

Berbelanja.

Menikmati.

Lalu pulang dengan cerita baik.

Dan mungkin, itulah yang sedang dikejar Sidrap hari ini. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini