Oleh: Edy Basri
Cinta kepada kampung halaman tidak selalu diucapkan.
Kadang ditunjukkan.
Dengan tindakan.
Dengan kepedulian.
Dengan kesediaan kembali ketika banyak orang justru memilih menjauh setelah berhasil.
Nurjannah, atau yang akrab disapa Jhane, tampaknya memilih jalan itu.
Founder Gemini Indonesia tersebut kembali pulang ke Enrekang. Bukan untuk berwisata. Bukan pula sekadar melepas rindu kepada tanah kelahirannya.
Ia datang membawa bantuan peralatan produksi dangke untuk masyarakat Dusun Rogo, Desa Sumbang, Kecamatan Curio.
Sepintas, bantuan itu mungkin terlihat biasa.
Hanya peralatan memasak.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Tidak menjadi berita nasional.
Tetapi bagi para pembuat dangke, bantuan semacam itu bisa berarti banyak.
Karena usaha kecil tidak selalu membutuhkan pidato panjang.
Mereka lebih membutuhkan alat yang bekerja.
Peralatan yang membuat produksi lebih baik.
Dan dukungan yang benar-benar terasa manfaatnya.
Di situlah letak makna kunjungan Nurjannah.
Ia tidak hanya datang melihat.
Ia ikut memikirkan bagaimana produk khas Enrekang bisa berkembang.
Bagaimana dangke bisa diproduksi lebih higienis.
Bagaimana kualitasnya meningkat.
Dan bagaimana produk lokal itu memiliki peluang lebih besar menembus pasar yang lebih luas.
Dangke bukan sekadar makanan.
Bagi Enrekang, dangke adalah identitas.
Nama daerah ini bahkan hampir selalu disebut bersamaan dengan dangke.
Keduanya seperti tidak bisa dipisahkan.
Karena itu, ketika kualitas dangke meningkat, yang ikut terangkat bukan hanya pelaku usahanya.
Tetapi juga nama Enrekang itu sendiri.
Yang menarik, langkah Nurjannah bukanlah kerja sesaat.
Sebelumnya, melalui kolaborasi Gemini Indonesia dan IPDN Kampus Sulawesi Selatan, berbagai program pemberdayaan masyarakat telah dilakukan.
Mulai dari pendampingan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), izin PIRT, hingga sertifikasi halal.
Semua itu adalah fondasi penting agar usaha mikro mampu berkembang lebih profesional.
Sebab UMKM hari ini tidak cukup hanya mengandalkan rasa.
Mereka harus memenuhi standar.
Harus memiliki legalitas.
Dan harus mampu menjawab tuntutan pasar yang semakin kompetitif.
Nurjannah memahami bahwa pelatihan saja tidak cukup.
Pengetahuan perlu didukung fasilitas.
Pendampingan harus diikuti tindakan nyata.
Karena itulah bantuan peralatan produksi menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan tersebut.
Ada satu kalimat yang menarik dari pernyataannya.
“Di mana pun kita berada, kita harus bisa memberikan manfaat, terutama untuk masyarakat kampung halaman kita sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi mengandung pesan yang dalam.
Bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, kampung halaman tetap memiliki tempat istimewa.
Dan cinta kepada daerah tidak harus diwujudkan melalui jabatan atau kekuasaan.
Kadang cukup dengan membantu masyarakat berkembang.
Membuka peluang usaha.
Atau memperkuat produk lokal agar lebih bernilai.
Enrekang membutuhkan lebih banyak orang yang berpikir seperti itu.
Orang-orang yang tidak melupakan akar tempat mereka tumbuh.
Orang-orang yang menjadikan keberhasilan pribadi sebagai jalan untuk membantu sesama.
Karena pembangunan tidak selalu lahir dari program besar.
Kadang ia tumbuh dari kepedulian.
Dari rasa memiliki.
Dan dari cinta yang tidak berhenti hanya pada kata-kata.
Mungkin itulah yang sedang ditunjukkan Nurjannah.
Bahwa mencintai Enrekang tidak cukup dengan bangga menyebut nama daerahnya.
Tetapi dengan ikut memastikan masyarakatnya ikut maju bersama. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
