Oleh: Edy Basri

Jujur saja.

Tidak semua sekolah mendapat promosi semewah ini.

Promosinya bukan baliho.

Bukan iklan.

Bukan juga video viral di media sosial.

Melainkan pengakuan seorang bupati.

Di depan banyak orang.

Dan pengakuan itu berbunyi sederhana:

“Saya titip putri saya di Athirah.”

Selesai.

Kalimat itu mungkin lebih mahal daripada seratus spanduk penerimaan siswa baru.

Karena orang tua biasanya punya satu kebiasaan.

Mereka tidak sembarangan menitipkan anak.

Apalagi anak perempuan.

Apalagi kalau yang menitip adalah kepala daerah.

Maka ketika Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengaku mempercayakan putrinya bersekolah di Athirah, publik langsung menangkap pesannya.

Ini bukan sekadar pidato seremonial.

Ini testimoni.

Testimoni kelas atas.

Dan testimoni seperti itu tidak bisa dibeli.

Di tengah persaingan sekolah yang semakin ketat, kepercayaan adalah mata uang paling mahal.

Sebab hari ini orang tua tidak lagi hanya mencari sekolah yang nilai matematikanya tinggi.

Tidak hanya mengejar ranking.

Mereka mencari tempat yang bisa menjaga anaknya.

Mendidiknya.

Membentuk karakternya.

Kalau bisa sekalian memperbaiki kebiasaan buruknya.

Karena itu sekolah berasrama mulai banyak diminati.

Meski konsekuensinya tidak ringan.

Anak harus jauh dari rumah.

Jauh dari ibu.

Jauh dari masakan favorit.

Jauh dari kenyamanan yang selama ini tersedia setiap hari.

Tetapi justru di situlah nilai pendidikannya.

Hidup tidak pernah menyediakan tombol “minta bantuan ibu” setiap saat.

Cepat atau lambat, anak-anak memang harus belajar berdiri sendiri.

Athirah memahami itu.

Makanya mereka menjual satu hal yang kini semakin langka.

Daya juang.

Istilah kerennya yang diperkenalkan kemarin adalah “5 AR”.

Pintar.

Segar.

Bugar.

Tegar.

Benar.

Bagus.

Terdengar ideal.

Tapi tantangan sesungguhnya bukan membuat slogan.

Melainkan mewujudkannya.

Karena generasi sekarang menghadapi musuh yang berbeda.

Bukan perang.

Bukan kemiskinan ekstrem.

Melainkan kenyamanan berlebihan.

Anak-anak semakin pintar menggunakan gawai.

Tetapi belum tentu tahan menghadapi kegagalan.

Mudah mendapatkan informasi.

Tetapi belum tentu kuat menerima kritik.

Cepat menguasai teknologi.

Tetapi kadang lambat mengendalikan emosi.

Maka sekolah hari ini dituntut tidak sekadar mencetak anak pintar.

Indonesia sudah terlalu banyak orang pintar.

Yang sering kurang justru orang yang tangguh.

Yang mampu jatuh lalu bangkit.

Yang gagal lalu mencoba lagi.

Yang sukses tetapi tetap rendah hati.

Menariknya, Athirah juga memberi ruang bagi siswa berprestasi lewat beasiswa.

Ada 37 siswa yang mendapat beasiswa penuh.

Artinya, setidaknya masih ada keyakinan bahwa kecerdasan tidak boleh kalah oleh keadaan ekonomi.

Dan itu kabar baik.

Karena bangsa ini terlalu sering kehilangan anak-anak hebat hanya karena persoalan biaya.

Welcoming Day di Athirah kemarin memang terlihat seperti acara biasa.

Siswa baru datang.

Orang tua hadir.

Foto bersama.

Lalu pulang.

Tetapi di balik itu ada pertaruhan yang jauh lebih besar.

Para orang tua sedang menitipkan masa depan mereka.

Dan sekolah sedang menerima amanah yang tidak ringan.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sekolah bukan berapa banyak siswa yang diterima.

Melainkan berapa banyak yang berhasil ketika keluar.

Sisanya?

Waktu yang akan menjawab.

Dan seperti kata orang tua zaman dulu: sekolah yang baik tidak perlu banyak bicara.

Alumni-alumninya yang akan berbicara. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Viral hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Viral terbaru di sini