BONE β Di banyak wilayah pertanian, jerami usai panen sering berakhir menjadi tumpukan limbah. Kotoran ternak pun kerap dianggap masalah yang harus segera dibuang. Namun di Kabupaten Bone, cara pandang itu mulai berubah.
Melalui Pelatihan Pabbura Mannennungeng yang digelar di Aula P4S Lamellong, Desa Kajaolaliddong, para petani dan peternak diajak melihat limbah sebagai sumber ekonomi baru yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pelatihan yang digagas Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin menghadirkan Penyuluh Pertanian Ahli Madya Kementerian Pertanian RI, Abrahan, sebagai narasumber utama.
Bagi petani Bone, isu limbah pertanian bukan sekadar persoalan kebersihan lingkungan. Di tengah meningkatnya biaya produksi pertanian, kemampuan mengolah limbah menjadi pupuk maupun pakan ternak dinilai dapat memangkas pengeluaran sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep pertanian terpadu atau Integrated Crop-Livestock Systems (ICLS), sebuah pendekatan yang menghubungkan sektor tanaman dan peternakan dalam satu siklus produksi yang saling menguntungkan.
Jerami sisa panen, misalnya, dapat diolah menjadi silase sebagai pakan ternak. Sementara limbah peternakan dapat diproses menjadi pupuk organik yang kembali digunakan untuk lahan pertanian.
“Kalau limbah dikelola dengan benar, nilainya bisa kembali ke petani. Yang tadinya dianggap sampah justru bisa menjadi sumber penghematan bahkan tambahan pendapatan,” kata Abrahan saat memberikan materi.
Dalam sesi praktik, peserta tidak hanya menerima teori. Mereka juga langsung mempelajari penggunaan Tumbling Composter, teknologi sederhana yang memungkinkan proses pengolahan limbah organik berlangsung lebih cepat dan efisien.
Selain itu, peserta diajarkan teknik pembuatan kompos bokasi dan fermentasi pakan ternak yang dapat diterapkan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di pedesaan Bone.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S., mengatakan program Pabbura Mannennungeng dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata petani di lapangan.
Menurutnya, penguatan kapasitas petani tidak cukup hanya melalui penyuluhan teori, tetapi juga harus disertai transfer teknologi yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas usaha tani sehari-hari.
“Kami ingin petani mendapatkan solusi yang sederhana, murah, tetapi berdampak nyata terhadap produktivitas dan efisiensi usaha mereka,” ujarnya.
Respons positif datang dari para peserta. Ketua P4S Lamellong, Burhanuddin, mengaku banyak petani selama ini belum memahami bahwa limbah pertanian dan peternakan memiliki nilai ekonomi yang cukup besar.
“Biasanya jerami dan limbah ternak hanya dibuang begitu saja. Setelah pelatihan ini, kami mengetahui bahwa semuanya bisa diolah kembali menjadi pupuk maupun pakan ternak yang berguna,” katanya.
Kabupaten Bone sendiri dikenal sebagai salah satu daerah dengan aktivitas pertanian dan peternakan yang cukup besar di Sulawesi Selatan. Potensi limbah organik yang dihasilkan setiap musim tanam maupun dari sektor peternakan dinilai sangat besar untuk dimanfaatkan dalam sistem pertanian berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas berharap semakin banyak petani Bone yang beralih dari pola pertanian konvensional menuju sistem yang lebih hemat biaya, ramah lingkungan, dan mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil usaha tani.
Jika inovasi tersebut diterapkan secara luas, limbah yang selama ini dianggap beban berpotensi menjadi salah satu sumber kekuatan baru bagi sektor pertanian Bone di masa mendatang. (*)
