Padang, Katasulsel.com – Di balik pasokan daging sapi yang memenuhi pasar-pasar tradisional di Kota Padang, tersimpan tantangan besar yang terus diwaspadai pemerintah. Mobilitas ternak dari luar daerah ternyata masih menjadi jalur paling rentan bagi masuknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), penyakit menular yang pernah mengguncang sektor peternakan Indonesia.
Fakta tersebut diungkap Dinas Pertanian Kota Padang yang kini memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas ternak sebagai langkah utama mencegah penyebaran PMK.
Kepala UPT Puskeswan Dinas Pertanian Kota Padang, drh. Yasir Irawan, menjelaskan sebagian besar ternak yang masuk ke Padang berasal dari luar wilayah, terutama Sumatera Utara. Kondisi itu membuat pengawasan kesehatan hewan menjadi sangat penting untuk mencegah munculnya kasus baru.
“Mobilitas ternak antarwilayah masih menjadi faktor utama penyebaran PMK. Karena itu pengawasan harus diperketat,” kata Yasir, Selasa (7/7/2026).
PMK sendiri merupakan penyakit virus yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Penyakit ini memang jarang menyebabkan kematian, tetapi dampaknya terhadap ekonomi peternak sangat besar karena dapat menurunkan produktivitas ternak secara drastis.
Hewan yang terinfeksi biasanya mengalami lepuh pada mulut menyerupai sariawan, mengeluarkan air liur berlebihan, hingga mengalami luka pada kuku yang membuat ternak sulit berjalan dan kehilangan nafsu makan.
Untuk memperkuat perlindungan terhadap ternak, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyediakan vaksin PMK gratis. Tahun 2026, Kota Padang mendapatkan alokasi 700 dosis vaksin yang disalurkan kepada ternak yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Namun pemerintah menegaskan bahwa vaksin bukan satu-satunya solusi. Pengendalian PMK juga bergantung pada kedisiplinan peternak dalam menjaga kebersihan kandang, membatasi kontak dengan ternak yang belum jelas status kesehatannya, serta melaporkan gejala mencurigakan secepat mungkin.
Menariknya, kesadaran peternak di Kota Padang kini dinilai jauh lebih baik dibanding saat wabah PMK pertama kali meluas pada 2022. Jika dahulu banyak peternak panik dan menjual ternak sakit dengan harga murah, kini mereka lebih memilih berkonsultasi dengan petugas kesehatan hewan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Setiap laporan dugaan PMK yang masuk dari masyarakat langsung ditindaklanjuti oleh tim medis UPT Puskeswan dan Bidang Kesehatan Hewan. Langkah cepat tersebut menjadi bagian dari strategi deteksi dini agar penyebaran penyakit tidak meluas.
Bagi Kota Padang yang bergantung pada pasokan ternak dari berbagai daerah, menjaga kesehatan hewan bukan sekadar urusan peternakan. Upaya itu juga berkaitan langsung dengan stabilitas harga daging, keberlangsungan usaha peternak, serta ketahanan pangan masyarakat.
Karena itu, kombinasi vaksinasi, pengawasan lalu lintas ternak, edukasi peternak, dan respons cepat terhadap laporan warga kini menjadi benteng utama Kota Padang dalam menghadapi ancaman PMK yang masih mengintai sektor peternakan nasional.
