Makassar, Katasulsel.com β Selasa itu, kabar duka menyelimuti banyak rumah di Luwu Raya. Telepon berdering, pesan berantai menyebar, dan satu nama yang selama puluhan tahun akrab dalam perjalanan pembangunan Luwu Utara kembali disebut dengan nada yang berbeda.
H. Arifin Junaidi telah berpulang.
Mantan Bupati Luwu Utara periode 2010β2015 itu mengembuskan napas terakhir di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, Selasa (7/7/2026), setelah hampir setahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya.
Namun bagi banyak orang, kepergian Arifin Junaidi bukan sekadar berakhirnya perjalanan seorang mantan kepala daerah. Ia adalah kisah panjang seorang anak Sabbang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi kepada tanah yang membesarkannya.
Lahir pada 17 Agustus 1952 di Kecamatan Sabbang, Arifin memulai karier dari jenjang yang paling dekat dengan masyarakat. Ia pernah menjadi camat, birokrat lapangan, hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.
Dari ruang-ruang pelayanan publik hingga meja perencanaan pembangunan, namanya tumbuh bersama perjalanan daerah yang kala itu masih mencari bentuk dan arah pembangunan.
Tak banyak yang menyangka, perjalanan seorang aparatur sipil negara itu kemudian mengantarkannya ke kursi Wakil Bupati, lalu menjadi Bupati Luwu Utara.
Tetapi mereka yang mengenalnya mengatakan satu hal yang tak pernah berubah: kesederhanaannya.
Ketua BPW KKLR Sulawesi Selatan, Hasbi Syamsu Ali, mengenang Arifin sebagai tokoh yang selalu membuka ruang dialog, tak pernah lelah memberi masukan, bahkan ketika masa jabatannya telah lama berakhir.
“Beliau selalu hadir memberikan pandangan, semangat, dan nasihat bagi organisasi maupun daerah. Sosok seperti beliau tentu tidak mudah tergantikan,” ujarnya.
Bagi keluarga besar Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR), Arifin bukan hanya seorang mantan bupati. Ia adalah tokoh senior yang menjadi tempat bertanya, tempat meminta pertimbangan, sekaligus pengingat bahwa jabatan sejatinya adalah alat pengabdian.
Hampir satu tahun terakhir, Arifin menjalani perjuangan yang lebih sunyi. Tidak lagi tentang pembangunan jalan, pertanian, atau pelayanan publik, melainkan perjuangan melawan penyakit yang perlahan menggerus kesehatannya.
Meski demikian, banyak sahabat dan kerabat menyebut semangatnya tidak pernah benar-benar padam.
Ironisnya, sosok yang selama puluhan tahun hadir dalam berbagai peristiwa penting masyarakat itu akhirnya pergi dalam keheningan, meninggalkan kenangan yang justru kembali hidup dalam ingatan banyak orang.
Dari camat, kepala Bappeda, wakil bupati, hingga bupati. Dari ruang rapat pemerintahan hingga forum-forum masyarakat Luwu Raya. Perjalanan panjang itu kini telah selesai.
Jenazah almarhum diberangkatkan dari Makassar menuju kampung halamannya di Desa Pombaniki, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara.
Di sanalah, tanah yang dahulu menyaksikan langkah awal pengabdiannya akan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.
Dan bagi banyak warga Luwu Raya, H. Arifin Junaidi mungkin telah meninggalkan dunia. Namun jejak pengabdian yang ditinggalkannya masih akan terus berjalan, melewati jalan-jalan yang pernah ia bangun, masyarakat yang pernah ia layani, dan generasi yang kelak akan mendengar namanya dalam cerita tentang seorang birokrat yang memilih mengabdi hingga akhir hayat.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
