Oleh: Edy Basri

Orang Indonesia sering minder.

Kalau soal teknologi, menoleh ke Jepang.

Kalau soal mobil, melirik Korea.

Kalau soal sepak bola, iri pada Timur Tengah.

Tapi kalau urusan makanan?

Asia ternyata harus menoleh ke Indonesia.

Setidaknya begitu yang tergambar dalam daftar terbaru Taste Atlas.

Situs ensiklopedia kuliner dunia itu menempatkan Sate Padang sebagai kuliner daging terbaik nomor dua di Asia.

Nomor dua.

Bukan Asia Tenggara.

Bukan ASEAN.

Asia.

Benua yang dihuni lebih dari empat miliar manusia dengan ribuan tradisi kuliner.

Hanya satu makanan yang berada di atasnya: Beyti Kebab dari Turkiye.

Sisanya?

Sate Padang berhasil mengungguli hidangan-hidangan legendaris dari Korea Selatan, Jepang, Iran, Vietnam, China, India, hingga Israel.

Itu bukan pencapaian kecil.

Sebab dalam urusan daging, negara-negara tersebut bukan pemain baru.

Mereka punya sejarah panjang.

Punya resep turun-temurun.

Punya industri kuliner yang mendunia.

Namun di tengah persaingan itu, sebuah tusukan daging dari sudut Sumatera Barat justru berdiri nyaris di puncak.

Menariknya, Indonesia tidak hanya mengirim satu wakil.

Ada Nasi Rendang.

Ada Nasi Gandul.

Ada Dendeng Balado.

Ada Selat Solo.

Ada Semur Daging.

Artinya, Indonesia bukan sekadar ikut meramaikan daftar.

Indonesia menguasai daftar.

Dan itu seharusnya membuat kita berpikir.

Mengapa makanan Indonesia begitu kuat di mata dunia?

Jawabannya mungkin ada pada satu kata.

Rempah.

Sementara banyak negara mengandalkan satu atau dua bumbu utama, dapur Nusantara seperti pesta rasa yang tidak ada habisnya.

Kunyit.

Lengkuas.

Serai.

Ketumbar.

Jintan.

Cabai.

Bawang.

Semuanya bertemu dalam satu piring.

Dan Sate Padang adalah contoh paling telanjang dari kekayaan itu.

Lihat saja kuahnya.

Kental.

Pekat.

Berwarna cokelat keemasan.

Tidak sekadar menjadi pelengkap.

Kuah itu justru bintang utamanya.

Di sanalah seluruh rempah bekerja.

Di sanalah aroma dan rasa bersekongkol menciptakan sesuatu yang sulit dilupakan.

Sate Padang bukan makanan yang sopan.

Ia datang dengan rasa yang keras.

Berani.

Dan tanpa kompromi.

Sekali suapan, lidah langsung tahu bahwa ini bukan sate biasa.

Mungkin itulah alasan mengapa wisatawan yang datang ke Indonesia sering membawa pulang satu kenangan yang sama.

Bukan gedung pencakar langit.

Bukan pusat perbelanjaan.

Melainkan makanan.

Karena makanan Indonesia punya kemampuan yang langka.

Membuat orang asing jatuh cinta sebelum mereka sempat memahami resepnya.

Sayangnya, ada ironi yang sering terjadi.

Ketika dunia mulai mengakui makanan Indonesia, kita justru sering menganggapnya biasa saja.

Lebih bangga mengunggah foto makanan luar negeri daripada memperkenalkan warisan kuliner sendiri.

Padahal, daftar Taste Atlas ini memberi pesan yang jelas.

Dunia sedang melihat Indonesia sebagai raksasa kuliner.

Bukan sekadar negara dengan banyak makanan.

Melainkan negara dengan makanan terbaik.

Dan Sate Padang sedang menjadi duta paling lantang untuk membuktikannya.

Jadi jika suatu hari ada yang bertanya, apa salah satu hidangan daging terbaik di Asia?

Jawabannya tidak perlu jauh-jauh.

Bukan dari Tokyo.

Bukan dari Seoul.

Bukan pula dari Beijing.

Jawabannya ada di atas daun pisang, ditemani ketupat, disiram kuah kental penuh rempah.

Namanya: Sate Padang. (*)