Oleh: Edy Basri
Argentina menang lagi.
Pendukung Argentina di seluruh dunia bersorak.
Media sosial dipenuhi gambar biru-putih.
Lautaro Martínez jadi pahlawan.
Julián Álvarez jadi pembeda.
Swiss pulang.
Cerita yang indah.
Tapi tunggu dulu.
Kalau Anda bertanya kepada Bupati Soppeng Suwardi Haseng, kemungkinan besar ia belum mau berpesta.
Belum.
Masih terlalu cepat.
Sebab penggemar berat Argentina biasanya punya satu penyakit yang sama.
Trauma.
Mereka tahu betul bagaimana rasanya berharap terlalu tinggi.
Lalu jatuh terlalu dalam.
Apalagi sepak bola Argentina punya sejarah panjang soal drama.
Bahkan ketika menang pun sering membuat jantung pendukungnya bekerja lembur.
Lihat saja laga melawan Swiss.
Secara statistik, Argentina seperti bos besar yang menguasai kantor.
Penguasaan bola 59 persen.
Tembakan 23 kali.
Tendangan sudut delapan kali.
Operan lebih dari 600.
Swiss hanya bisa mengejar.
Hanya bisa bertahan.
Hanya bisa menunggu kesempatan.
Kalau sepak bola dinilai dari angka semata, pertandingan itu seharusnya selesai lebih cepat.
Mungkin 2-0.
Mungkin 3-1 sejak 90 menit.
Tapi sepak bola bukan spreadsheet.
Ia lebih mirip sinetron.
Suka memanjang meski penontonnya sudah tahu ending-nya.
Argentina mendominasi.
Swiss mencuri gol.
Pertandingan masuk perpanjangan waktu.
Pendukung Argentina mulai menggigit kuku.
Sebagian mungkin sudah berjalan mondar-mandir di ruang tamu.
Dan mungkin, di salah satu sudut Kabupaten Soppeng, Suwardi Haseng ikut melakukan hal yang sama.
Karena menjadi pendukung Argentina itu bukan soal menikmati kemenangan.
Melainkan soal bertahan dari serangan jantung kecil setiap pertandingan.
Untungnya Argentina masih Argentina.
Ketika lawan mulai kehabisan tenaga, mereka justru menemukan tenaga cadangan.
Gol Julián Álvarez datang.
Lalu Lautaro Martínez menutup semuanya.
3-1.
Selesai.
Tiket semifinal aman.
Tetapi bagi Suwardi Haseng dan jutaan penggemar Argentina lainnya, kemenangan atas Swiss bukan alasan untuk tidur nyenyak.
Masalah sebenarnya justru baru dimulai.
Inggris sudah menunggu.
Tim yang tidak terlalu indah dimainkan.
Tetapi sering sangat efektif.
Tim yang tidak selalu memukau.
Tetapi sering pulang membawa hasil.
Dan di fase seperti ini, keindahan permainan tidak masuk hitungan.
Yang dicatat sejarah hanya satu.
Menang atau kalah.
Karena itu, Argentina memang boleh merayakan kemenangan atas Swiss.
Tetapi jangan terlalu lama.
Masih ada pekerjaan besar di depan.
Masih ada mimpi mempertahankan gelar.
Masih ada harapan mengangkat trofi dunia untuk kedua kalinya secara beruntun.
Dan saya kira, Suwardi Haseng pun memahami itu.
Sebagai pendukung fanatik Argentina, ia pasti tahu satu rumus yang sudah berlaku puluhan tahun.
Argentina memang sering menang.
Tapi jarang menang dengan tenang.
Karena itulah menjadi pendukung Argentina bukan sekadar soal cinta.
Melainkan soal kekuatan mental.
Dan sejauh ini, baik Argentina maupun para pendukungnya masih sama-sama bertahan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
