Oleh: Dinda Fatimah Zahra
Makassar selama ini dikenal sebagai kota pesisir.
Dikelilingi laut.
Dihiasi sungai.
Dan setiap tahun akrab dengan cerita banjir.
Karena itu, terdengar ironis ketika kota ini kini menghadapi persoalan yang berlawanan.
Kekeringan.
Bukan air yang berlebihan.
Tetapi air yang menghilang.
Bukan rumah yang terendam.
Tetapi ember yang kosong.
Sebanyak 37 ribu lebih warga kini merasakan dampaknya.
Mereka tersebar di 18 kelurahan, empat kecamatan, dan puluhan lingkungan yang perlahan mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Angka itu bukan sekadar statistik.
Di baliknya ada dapur yang kesulitan memasak.
Ada keluarga yang harus menghemat air mandi.
Ada ibu rumah tangga yang menghitung ulang setiap tetes air yang tersisa di bak penampungan.
Ada warga yang menunggu kedatangan mobil tangki seperti menunggu hujan turun.
Makassar memang tidak asing dengan kemarau.
Tetapi ketika ribuan orang mulai bergantung pada bantuan air bersih, persoalannya tidak lagi bisa dianggap biasa.
Ini sudah menjadi alarm.
Alarm bahwa ketahanan air perkotaan sedang diuji.
Yang menarik, wilayah terdampak bukan hanya kawasan pinggiran.
Kekeringan menyebar dari Ujung Tanah hingga Tamalanrea.
Dari Tallo hingga Biringkanaya.
Artinya, persoalan ini bukan milik satu lingkungan tertentu.
Ia sudah menjadi persoalan kota.
Dan seperti biasa, saat air mulai langka, pertanyaan lama kembali muncul.
Mengapa ini terus terjadi?
Sebab kekeringan bukan peristiwa yang datang tiba-tiba seperti gempa bumi.
Musim kemarau bisa diprediksi.
Datangnya diketahui.
Polanya dapat dipetakan.
Bahkan wilayah rawannya sudah bisa ditebak dari tahun ke tahun.
Jika demikian, mengapa setiap musim kemarau warga tetap harus berebut air?
BPBD Kota Makassar memang bergerak cepat.
Sebanyak 89 titik distribusi air bersih telah disiapkan.
Mobil tangki mulai beroperasi.
Petugas turun ke lapangan.
Semua itu patut diapresiasi.
Tetapi bantuan darurat tetaplah bantuan darurat.
Ia menyelesaikan kebutuhan hari ini.
Belum tentu menjawab kebutuhan bulan depan.
Apalagi tahun depan.
Karena sesungguhnya persoalan utama bukan distribusi air.
Melainkan ketersediaannya.
Makassar sedang menghadapi kenyataan baru.
Perubahan iklim membuat musim semakin sulit diprediksi.
Kemarau terasa lebih panjang.
Curah hujan semakin tidak menentu.
Dan kota-kota besar mulai merasakan tekanan terhadap sumber daya air bersih.
Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, kekeringan yang hari ini menimpa 37 ribu warga bisa menjadi persoalan yang jauh lebih besar di masa depan.
BNPB mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air.
Imbauan itu benar.
Tetapi penghematan hanya satu bagian dari solusi.
Bagian lainnya adalah memastikan infrastruktur air bersih mampu menjangkau seluruh warga ketika musim kemarau datang.
Karena bagi masyarakat, air bukan pilihan.
Air adalah kebutuhan paling dasar.
Orang bisa menunda membeli pakaian.
Bisa menunda membeli kendaraan.
Tetapi tidak bisa menunda minum.
Tidak bisa menunda mandi.
Dan tidak bisa menunda kebutuhan hidup yang bergantung pada air setiap hari.
Makassar pernah berkali-kali belajar menghadapi banjir.
Kini kota ini sedang belajar menghadapi sisi lain dari cuaca ekstrem.
Kekeringan.
Dan jika banjir mengajarkan pentingnya membuang kelebihan air, maka kekeringan mengajarkan satu hal yang lebih mendasar.
Betapa berharganya setiap tetes air yang selama ini sering dianggap biasa. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
