Ada kalimat yang sengaja diucapkan Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, dengan nada tegas di Kompleks Kusta Jongaya, Makassar, Sabtu, 11 Juli 2026.

Oleh: Edy Basri

Ucapan Pak Menkes itu bukan soal anggaran.

Bukan juga soal pembangunan rumah sakit.

Kalimat itu sederhana.

“Kusta bukan kutukan.”

Tiga kata terakhir itu penting.

Sebab hingga hari ini, yang paling menyakitkan bagi penyintas kusta sering kali bukan penyakitnya.

Melainkan stigma.

Budi Gunadi Sadikin datang langsung ke Jongaya. Ia tidak hanya melihat laporan di atas meja. Ia memilih duduk dan berbincang dengan warga. Mendengar cerita mereka. Menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan para penyintas berlangsung.

Salah satu yang ditemuinya adalah Muhammad Ali.

Seorang penyintas kusta yang kini masih menjalani pengobatan.

Kisah seperti Muhammad Ali sebenarnya tidak berdiri sendiri. Di banyak daerah, kasus kusta masih ditemukan terlambat. Ketika penyakit itu akhirnya terdeteksi, kerusakan saraf sudah terjadi. Kecacatan pun sulit dihindari.

Padahal, menurut Menkes, kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan.

Penyebabnya jelas.

Bakteri.

Bukan kutukan.

Bukan akibat dosa.

Bukan pula penyakit yang harus ditakuti berlebihan.

Bahkan setelah penderita mulai mengonsumsi obat, risiko penularannya sangat rendah. Karena itu, masyarakat diminta tidak menjauhi penyintas, melainkan membantu mereka mendapatkan pengobatan lebih cepat.

Di sinilah persoalan sesungguhnya.

Musuh terbesar penanggulangan kusta bukan hanya bakterinya.

Tetapi ketakutan.

Ketidaktahuan.

Dan stigma yang sudah berakar puluhan tahun.

Masih banyak penyintas yang kehilangan pekerjaan. Dikucilkan dari lingkungan. Bahkan dijauhi keluarganya sendiri.

Ironis.

Ketika penyakitnya bisa disembuhkan, luka sosialnya justru sering bertahan jauh lebih lama.

Karena itu, Menkes menegaskan bahwa keberhasilan penanganan kusta tidak boleh berhenti pada aspek medis.

Penyintas harus kembali diterima sebagai warga yang setara.

Tidak boleh ada diskriminasi.

Tidak boleh ada pelabelan.

Tidak boleh ada pengucilan.

Pesan itu diamini Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham.

Menurutnya, kehadiran Menteri Kesehatan membawa semangat baru bagi warga Kompleks Jongaya, terutama Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Harapan itu bukan tanpa alasan.

Makassar memang sedang berupaya memperkuat pelayanan kesehatan berbasis pencegahan dan deteksi dini.

Aliyah bahkan melaporkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat di Kelurahan Balang Baru relatif terkendali. Dari total 2.806 penduduk, tidak ditemukan kasus gizi buruk. Hanya ada empat kasus gizi kurang yang masih dalam pendampingan.

Angka itu menunjukkan satu hal.

Pekerjaan rumah sektor kesehatan tidak hanya soal mengobati.

Tetapi juga menjaga agar masyarakat tetap sehat sejak awal.

Termasuk dalam penanganan kusta.

Menariknya, kini skrining kusta telah masuk dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini penting karena semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang penderita sembuh tanpa mengalami kecacatan.

Deteksi dini selalu lebih murah daripada penanganan yang terlambat.

Lebih manusiawi.

Dan lebih efektif.

Kunjungan Menkes ke Jongaya kemarin mungkin hanya berlangsung beberapa jam.

Tetapi pesan yang dibawanya jauh lebih panjang dari itu.

Bahwa perang melawan kusta tidak cukup dengan obat.

Ia juga membutuhkan empati.

Membutuhkan keberanian untuk menghapus prasangka.

Dan membutuhkan kesadaran bahwa penyintas kusta bukanlah orang yang harus dijauhi.

Mereka adalah warga negara yang berhak hidup normal, bekerja, bergaul, dan bermimpi seperti kita semua.

Karena pada akhirnya, yang harus diisolasi bukan manusianya.

Melainkan stigmanya. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Makassar terbaru di sini