Enrekang, Katasulsel.com— Penonton yang datang ke Lapangan Sepak Bola Pemuda Baraka untuk menyaksikan duel Kolai melawan Pentuanginan di babak delapan besar Baraka Cup I 2026, Jumat (10/7/2026), justru disuguhi “dua pertandingan” sekaligus. Satu berlangsung di lapangan hijau, satu lagi terjadi di luar jalannya pertandingan.
Saat laga memasuki tensi tinggi, keributan pecah dan melibatkan sejumlah orang di sekitar arena pertandingan. Suasana yang semula dipenuhi sorak-sorai berubah menjadi ricuh. Beberapa penonton berhamburan, sementara yang lain berusaha melerai pihak-pihak yang terlibat.
Video kericuhan itu dengan cepat beredar di media sosial dan menjadi perbincangan publik. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti apa yang memicu insiden tersebut maupun apakah ada korban akibat peristiwa itu.
Ironisnya, keributan seperti ini bukan kali pertama mewarnai turnamen sepak bola antarkampung di Enrekang. Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola lokal, pertandingan kerap diwarnai gesekan antarsuporter maupun pemain yang berujung pada bentrokan.
Padahal, Baraka Cup I 2026 menjadi salah satu turnamen yang paling menyita perhatian pencinta sepak bola di Kabupaten Enrekang. Laga perempat final antara Kolai dan Pentuanginan sendiri telah dinantikan sejak kedua tim memastikan tiket ke babak delapan besar.
Insiden tersebut kembali menjadi pengingat bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi yang menghadirkan hiburan dan mempererat persaudaraan, bukan ajang mempertontonkan aksi kekerasan.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari panitia maupun aparat keamanan mengenai kronologi lengkap keributan tersebut maupun langkah yang akan diambil terhadap pihak-pihak yang terlibat. Publik pun berharap sisa pertandingan Baraka Cup 2026 dapat berlangsung aman sehingga perhatian kembali tertuju pada kualitas permainan di lapangan, bukan pada kericuhan di luar pertandingan.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
