Oleh: Dinda Fatimah Zahra

Piala Dunia memang aneh.

Yang bertanding Argentina dan Swiss.

Yang tegang justru warga Pattallassang.

Yang berteriak malah masyarakat Gowa.

Bahkan Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, ikut larut dalam pertandingan yang dimainkan ribuan kilometer dari Sulawesi Selatan itu.

Minggu pagi kemarin, ratusan warga berkumpul di Desa Panaikang.

Lokasinya bukan stadion.

Bukan pula kafe mahal dengan layar raksasa.

Melainkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Tempat yang biasanya lebih akrab dengan urusan ekonomi rakyat daripada urusan Lionel Messi dan kawan-kawan.

Namun pagi itu berbeda.

Argentina sedang bertanding.

Dan Argentina punya banyak penggemar.

Termasuk Darmawangsyah Muin.

Wakil Bupati Gowa itu bahkan tidak malu-malu mengaku memilih Argentina.

Terang-terangan.

Tidak abu-abu.

Tidak diplomatis.

“Saya mendukung Argentina,” katanya.

Kalimat yang beberapa jam kemudian terbukti tepat sasaran.

Argentina menang.

Swiss tumbang.

Skor 3-1.

Pendukung Albiceleste di Gowa pun bisa pulang tanpa sakit kepala.

Tapi sebenarnya, ada hal yang lebih menarik daripada hasil pertandingan itu sendiri.

Yaitu suasananya.

Bayangkan.

Ratusan orang berkumpul sejak pagi.

Duduk berdempetan.

Mata tertuju ke layar yang sama.

Tertawa bersama.

Mengeluh bersama.

Dan berteriak bersama saat gol tercipta.

Di era ketika orang lebih sering menunduk melihat ponsel daripada menatap wajah sesamanya, pemandangan seperti itu terasa mewah.

Sangat mewah.

Karena sepak bola masih memiliki satu kemampuan yang gagal dilakukan banyak program pemerintah.

Menyatukan orang.

Tidak peduli profesinya.

Tidak peduli status sosialnya.

Tidak peduli pilihan politiknya.

Begitu bola mulai bergulir, semua menjadi penonton yang setara.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada pangkat.

Tidak ada kursi VIP.

Yang ada hanya harapan sederhana.

Semoga tim jagoan menang.

Dandim 1409/Gowa Letkol Inf Gilang Nugraha Kresnadi tampaknya memahami betul kekuatan itu.

Karena itulah Kodim memilih menggelar nobar.

Bahasa resminya untuk mempererat silaturahmi.

Bahasa lapangannya lebih sederhana.

Membuat rakyat dan aparat bisa duduk di tempat yang sama tanpa sekat.

Dan hasilnya terlihat jelas.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada seremoni berlebihan.

Yang terdengar justru sorakan.

Tepuk tangan.

Dan sesekali umpatan khas penonton bola ketika peluang emas gagal menjadi gol.

Justru di situ letak keindahannya.

Hubungan yang cair sering lebih kuat daripada hubungan yang terlalu formal.

Sementara Argentina sendiri memberi hadiah yang cukup manis kepada para pendukungnya.

Mereka memang sempat dibuat berkeringat oleh Swiss.

Tetapi statistik pertandingan menunjukkan satu kenyataan.

Argentina lebih dominan.

Lebih banyak menyerang.

Lebih banyak menguasai bola.

Dan akhirnya lebih pantas menang.

Ketika Lautaro MartΓ­nez mencetak gol penutup di menit-menit akhir, suasana nobar langsung pecah.

Sorak-sorai terdengar di mana-mana.

Argentina menang.

Dan pagi di Desa Panaikang berubah menjadi pesta kecil.

Mungkin inilah alasan mengapa Piala Dunia selalu dirindukan.

Karena turnamen ini bukan sekadar soal sepak bola.

Ia adalah alasan bagi orang-orang untuk berkumpul.

Untuk melupakan sejenak urusan hidup.

Untuk tertawa bersama.

Dan untuk percaya bahwa kadang-kadang, kebahagiaan memang sesederhana melihat bola masuk ke gawang lawan.

Apalagi jika yang menang adalah tim jagoan sendiri.

Dan kemarin, di Gowa, nama tim itu adalah Argentina. (*)