JAKARTA — Ramadan bagi banyak pejabat identik dengan agenda seremonial. Tapi tidak bagi Dr. H. Bunyamin M. Yapid. Ia memilih gaspol.
Sebagai Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Bunyamin menjadikan bulan suci bukan sekadar momentum ibadah, tetapi panggung kerja. Ia road show. Safari Ramadhan dari satu daerah ke daerah lain. Turun gunung. Jemput bola.
Bunyamin bukan tipe pejabat yang nyaman di balik meja. Latar belakangnya adalah dai lapangan. Lebih dari 25 tahun ia berdakwah dari kampung ke kampung. Ia hafal denyut umat. Ia paham bahasa masyarakat.
Kini ruang geraknya nasional. Tapi gaya komunikasinya tetap membumi.
“Program Kementerian Agama tidak boleh berhenti di satker. Harus terasa di masyarakat. Harus berdampak,” tegasnya.
Istilahnya jelas: jangan sampai program cuma jadi wacana. Harus eksekusi. Harus on the track. Harus sampai ke akar rumput.
Dalam setiap safari, Bunyamin tidak hanya berceramah. Ia sekaligus mengonsolidasikan implementasi program. Ia datangi kantor-kantor Kemenag daerah. Ia ajak dialog tokoh agama. Ia pastikan arah kebijakan tetap inline dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu gagasan yang terus ia dorong adalah konsep “masjid naik kelas”.
Menurutnya, masjid tidak boleh hanya menjadi ruang ritual. Masjid harus menjadi pusat peradaban. Pusat pemberdayaan ekonomi. Ruang tumbuhnya UMKM. Tempat anak muda belajar. Tempat umat berdaya.
“Masjid harus hidup. Bukan hanya hidup kegiatan ibadahnya, tapi juga hidup fungsi sosial dan ekonominya,” ujarnya.
Bunyamin ingin agama tampil produktif. Bukan sekadar simbol. Bukan hanya retorika.
Ia juga konsisten mengawal kurikulum berbasis cinta. Sebuah pendekatan pendidikan yang menanamkan cinta lingkungan, cinta agama, dan cinta sesama manusia. Konsep yang menurutnya menjadi fondasi membangun generasi moderat dan toleran.
“Kita ingin generasi yang punya empati sosial. Tidak ekstrem. Tidak eksklusif. Tapi inklusif dan peduli,” katanya.
Sepanjang pekan pertama Ramadan, jadwalnya padat merayap. Hampir tiap hari berpindah daerah. Siang koordinasi, malam berdialog. Energinya seperti tidak habis.
Bunyamin sadar, jabatan hanyalah amanah. Yang lebih penting adalah dampaknya. Ia ingin memastikan Kementerian Agama benar-benar hadir di tengah umat.
Bahasanya sederhana, tapi pesannya tegas: jangan setengah-setengah. Ramadan adalah momentum all out.
Bagi Dr. Bunyamin M. Yapid, dakwah dan kebijakan tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Keduanya harus bertemu di lapangan. Harus terasa manfaatnya.
Ramadan ini, ia memilih bergerak. Bukan sekadar berbicara.

Tinggalkan Balasan