Parepare – Hari ini, Senin, 2 Maret 2026, suasana sudah mulai panas di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare.
PSM Makassar bersiap menghadapi Persita Tangerang pada pekan ke-24 Super League 2025/2026. Kedua tim akan berlaga pukul 21.00 Wita malam nanti.
Tapi, panasnya sekitaran stadion di kota kelahiran Bj Habibie itu tidak hanya dari terik matahari, melainkan dari tekanan yang menumpuk di pundak Juku Eja.
PSM Makassar, klub tertua di Indonesia, sedang diuji. Bayangkan..
Dalam sepuluh laga terakhir, hanya satu kemenangan yang mereka raih. Posisi ke-13 di klasemen membuat harga diri, tradisi, “Siri Na Pacce” yang selama ini menjadi identitas, mulai tergerus.
“Ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Ini soal siri’, soal pacce. Kita harus tunjukkan bahwa PSM masih punya nyali,” ujar Misba, suporter veteran yang mengikuti Juku Eja sejak era 80-an, sambil mengibas-ngibas bendera merah hitam.
Lawan malam ini, Persita Tangerang, dikenal sebagai Pendekar Cisadane. Mereka duduk nyaman di posisi enam klasemen, tapi PSM jangan sampai terkecoh. Statistik head-to-head masih berpihak kepada Juku Eja, tapi ingat, pada pertemuan pertama musim ini, PSM kalah di kandang lawan. Pelajaran pahit itu harus menjadi cambuk.
Pemantauan media, Kota Parepare mulai diserbu suporter dari berbagai daerah di Sulsel, bahkan dari luar provinsi.
Mereka datang tidak hanya sebagai penonton, mereka ingin melihat Juku Eja bangkit, menebus deretan hasil buruk, dan membuktikan bahwa PSM masih bisa mendominasi lawan, setidaknya malam ini.
Jika gagal, bukan hanya tiga poin yang hilang. Kepercayaan diri akan terkikis, dukungan suporter menurun, dan bayangan degradasi makin nyata.
Tapi jika menang, PSM akan menyalakan kembali semangat juang, memperlihatkan bahwa siri’ dan pacce mereka masih hidup, membara di setiap serangan dan umpan.
Malam ini, Parepare bukan sekadar kota pertandingan. Ini medan pertempuran identitas, di mana PSM Makassar harus membuktikan bahwa mereka masih layak disebut raja lapangan. (*)

Tinggalkan Balasan