Makassar, Katasulsel.com – Dapur-dapur di Nusa Tenggara Barat (NTB) sempat memanas. Itu karena harga cabai rawit merah merangkak naik, memicu keresahan pasar.
Pemerintah tak menunggu lama. Sebanyak 1,18 ton cabai dari sentra produksi Enrekang, Sulsel diterbangkan langsung ke Lombok, Minggu (1/3/2026), sebagai langkah cepat meredam gejolak.
Distribusi dilakukan melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.
Tim dari Badan Pangan Nasional bahkan turun langsung mengawal proses bongkar muat.
Ini bukan sekadar pengiriman komoditas, melainkan bagian dari skema stabilisasi harga berbasis respons cepat—bahasa kerennya rapid intervention policy.
Direktur Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, menyebut langkah tersebut sudah dikonsolidasikan bersama pemerintah daerah.
Begitu suplai tersedia di daerah penghasil, langsung digeser ke wilayah yang mengalami tekanan harga. Strateginya sederhana: tambah pasokan, tekan ekspektasi, kendalikan harga.
Tahap pertama, cabai dilepas dari petani Enrekang dengan harga Rp 58.000 per kilogram. Pemerintah menanggung sebagian ongkos kirim melalui skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Intervensi ini dirancang terukur agar dampaknya terasa cepat di pasar. Di tingkat pengecer, harga dijaga sekitar Rp 63.000 per kilogram, sementara konsumen membeli pada kisaran Rp 68.000 hingga Rp 73.000 per kilogram.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir dalam price stabilization framework. Pasar boleh bergerak, tetapi tidak dibiarkan liar. Pemerintah ingin memastikan margin tetap wajar—pedagang tidak merugi, konsumen tidak terbebani.
Data panel harga menunjukkan tren nasional mulai melandai. Dalam sepekan terakhir, harga cabai rawit turun dari Rp 77.645 menjadi Rp 70.953 per kilogram.
Koreksi ini disebut sebagai buah dari peningkatan distribusi dan penguatan pengawasan lintas sektor.
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan stabilitas harga adalah kerja kolaboratif lintas kementerian dan lembaga. Sidak pasar terus digencarkan. Tak boleh ada ruang bagi spekulan memainkan momentum.
Pengiriman via udara mungkin terlihat mahal di atas kertas. Namun dalam tata kelola pangan modern, kecepatan sering kali lebih menentukan daripada biaya logistik.
Inflasi pangan adalah isu sensitif. Ia bukan sekadar angka statistik, tetapi menyentuh langsung persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.
Dari Enrekang ke Lombok, cabai rawit menjadi simbol. Ketika komoditas dapur harus diterbangkan, itu berarti ada keseriusan menjaga stabilitas.
Pemerintah tak ingin panasnya harga berubah menjadi bara kepercayaan. Dan kali ini, responsnya bukan retorika—melainkan aksi konkret di landasan bandara.(*)

Tinggalkan Balasan