Manado, katasulsel.comLorong KUA Singkil, Lingkungan 7 dan 8, berubah menjadi lautan api, Rabu (25/3/2026) sekitar pukul 10.30 Wita.

14 rumah hangus.
Semua warga terpaku, panik, menatap kobaran yang merembet cepat.

Menurut Raymond, Kepala Seksi Pengendalian Operasi dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Manado, api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 11.43 Wita.

Penyebab cepatnya api? Angin kencang.
Petugas kewalahan.
Tiga mobil pemadam dan satu unit besar dikerahkan untuk menaklukkan si jago merah.

Advertisement

Warga bercerita, titik awal api dari dapur rumah milik Kajuri. Ia sedang menggoreng tahu, lalu meninggalkannya sebentar ke warung.
Api langsung membesar. Merambat. Menjilat rumah tetangga.

“Ada anak kecil sampai berteriak, ‘Opa cepat, sudah di atas atap!’” kata Roslina Heping, saksi mata.
Kejadian itu memaksa warga hanya bisa menonton kobaran api.

Salah seorang korban, Junita, fokus menyelamatkan anak-anaknya, usia 3 dan 9 tahun.
Harta benda? Terpaksa ditinggalkan.

“Yang penting mereka selamat. Rumah bisa dibangun lagi,” ujarnya dengan suara bergetar.

Advertisement

Api yang cepat merambet, teriakan panik, kepanikan warga—semua menegaskan: detik-detik kebakaran bisa mengubah hidup dalam hitungan menit.

Petugas terus berkoordinasi, warga tetap berjaga-jaga. Dan cerita hari itu, tetap menjadi peringatan keras: keselamatan keluarga jauh lebih berharga daripada apa pun.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.