Sidrap, Katasulsel.comArus itu sudah ada sejak lama.

Sungai Bila tidak pernah menunggu perhatian. Ia tetap mengalir. Deras. Jernih. Alami.

Yang belum ada—adalah keseriusan.

Sampai akhirnya, Sabtu itu (28/3/2026), suasana berubah.

Ratusan orang datang. Sekitar 150 rafter dari berbagai daerah—dari Bogor, Makassar, Kendari, hingga pelosok Sulawesi lainnya.

Rafter-rafter itu menjajalnya bersama Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif

Mereka bukan datang tanpa alasan.

Mereka datang karena Sungai Bila memang “punya sesuatu”.

Dan mereka membuktikannya—langsung di atas arus.

Di tengah itu, Syaharuddin Alrif terlihat antusias.

Tidak berdiri di pinggir.

Tidak sekadar menyapa.

Ia ikut mengayuh. Ikut melawan arus. Ikut merasakan apa yang selama ini hanya dibicarakan: potensi.

Ini bukan sekadar gaya.

Advertisement

Ini pesan.

Bahwa Sungai Bila bukan lagi cerita.

Ia sudah siap.

Yang belum siap—mungkin sistemnya.

Karena potensi saja tidak cukup.

Ia butuh jalan masuk.
Butuh fasilitas.
Butuh promosi.
Butuh keberanian untuk menjadikannya destinasi, bukan sekadar lokasi.

Di Desa Kalempang, hari itu, semuanya seperti memberi sinyal.

Warga mulai bergerak. Aktivitas muncul. Interaksi terjadi.

Ekonomi kecil mulai terasa denyutnya.

Hal-hal sederhana, tapi nyata.

Bupati pun sudah melempar arah.

Program “Bermalam di Desa”.

Kalau ini diseriusi, efeknya tidak kecil.

Orang datang, tidak hanya sebentar. Mereka tinggal. Belanja. Menghidupkan warung. Menggerakkan UMKM.

Advertisement

Desa tidak lagi jadi penonton.

Tapi pemain.

Jamnas Arus Deras 2026 ini hanya tiga hari.

Tapi ia seperti membuka pintu.

Pertanyaannya sekarang—

apakah pintu itu akan dibiarkan terbuka, atau kembali ditutup pelan-pelan?

Karena Sungai Bila tidak akan ke mana-mana.

Ia tetap di sana.

Tetap mengalir.

Menunggu satu hal:

siapa yang benar-benar mau menjadikannya masa depan. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.