WAJO, katasulsel.com – Ada yang berbeda di lingkungan Pondok Pesantren Daarul Mu’minin As’adiyah Doping, Kecamatan Penrang. Di tengah rutinitas pendidikan agama, para santri kini diajak “keluar” dari zona lokal menuju panggung global melalui program English Camp.

Program ini bukan sekadar kegiatan tambahan. Bagi pihak pesantren, ini adalah strategi membentuk santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.

Kepala Madrasah Aliyah Ponpes Damu, Amiruddin Amin, menegaskan bahwa English Camp merupakan agenda rutin tahunan yang dirancang sebagai ruang praktik, bukan sekadar teori.

“Setiap bulan kemampuan santri kami evaluasi. English Camp ini jadi momentum mengasah sekaligus mengukur perkembangan mereka,” ujarnya usai pembukaan, Selasa (14/4).

Selama dua hari, para santri “dipaksa” keluar dari kebiasaan. Bahasa Inggris menjadi alat komunikasi utama dalam setiap aktivitas. Tidak ada ruang untuk kembali ke bahasa sehari-hari—semua diarahkan pada pembiasaan.

Untuk menjaga kualitas, pesantren menghadirkan mentor dari Ponpes Al-Ikhlas Ujung Bone, yakni Sirajuddin. Kehadirannya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator yang mengubah cara pandang santri terhadap bahasa Inggris.

Di banyak tempat, bahasa Inggris masih dianggap sulit. Namun di sini, paradigma itu coba dipatahkan.

“Bahasa Inggris itu kebutuhan, bukan lagi pilihan,” menjadi pesan utama yang ditanamkan kepada para santri.

Pimpinan Ponpes Damu, Agustan Ranreng, melihat English Camp sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, membangun kepercayaan diri santri jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan teknis.

Karena itu, metode yang digunakan tidak kaku. Kegiatan dikemas dalam bentuk interaktif seperti storytelling, public speaking, hingga simulasi language village. Santri didorong aktif, berbicara, bahkan melakukan kesalahan—karena dari situlah proses belajar terjadi.

“Kami ingin santri tidak hanya bisa, tapi juga berani. Bahasa itu soal kepercayaan diri,” tegasnya.

Fenomena ini menarik. Pesantren yang selama ini identik dengan pendidikan tradisional kini mulai beradaptasi dengan kebutuhan global. Bahasa Inggris tidak lagi dianggap asing, tetapi menjadi bagian dari kompetensi dasar.

Di tengah arus globalisasi, langkah ini menjadi sinyal bahwa pesantren tidak ingin tertinggal. Mereka tidak hanya mencetak generasi religius, tetapi juga komunikatif dan adaptif.

Dari sebuah desa di Wajo, mimpi besar itu mulai dirancang—membawa santri berbicara, tidak hanya untuk lingkungan sekitar, tetapi untuk dunia.(*)

Gambar berita Katasulsel