Sidrap, katasulsel.com — Keynote speech tentang percepatan penurunan stunting menggema dalam Seminar Stunting yang digelar oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidenreng Rappang, sebagai bagian dari rangkaian bakti sosial (Baksos) Program S3 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas).
Dalam forum akademik yang menghadirkan sinergi antara dunia pendidikan tinggi, kesehatan, dan pemerintahan, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, Dr. Ishak Kenre, SKM., M.Kes, tampil sebagai pembicara utama yang mengurai secara tajam situasi, strategi, dan inovasi penanganan stunting di daerah.
Data Kuat, Sidrap di Jalur Positif
Di hadapan peserta seminar, Dr. Ishak memaparkan capaian kesehatan daerah dengan pendekatan evidence-based policy. Ia menegaskan, tren Indeks Kesehatan dan Usia Harapan Hidup (UHH) Sidrap terus menunjukkan peningkatan signifikan.
Pada 2025, UHH Sidrap mencapai 74,69 tahun, melampaui rata-rata provinsi dan nasional.
“Ini indikator kuat bahwa kualitas hidup masyarakat meningkat. Artinya, intervensi kesehatan kita berjalan efektif dan terukur,” ujarnya dalam narasi berbasis data-driven governance.
Sementara itu, angka stunting berbasis aplikasi e-PPGBM menunjukkan tren penurunan stabil hingga 5,86 persen pada 2025, menandakan keberhasilan pendekatan by name by address (BNBA).
Pendekatan Kolaboratif: Kunci Utama
Dr. Ishak menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia mengutip kerangka kebijakan nasional, di mana:
- 30% intervensi spesifik (gizi, kesehatan ibu dan anak)
- 70% intervensi sensitif (sanitasi, pendidikan, perlindungan sosial)
“Di sinilah pentingnya collaborative governance, semua sektor harus bergerak bersama,” tegasnya.
Pendekatan ini juga selaras dengan paradigma interprofessional collaboration dalam dunia akademik kesehatan.
Posyandu Jadi Pusat Transformasi Layanan
Dalam penguatan primary health care, Posyandu didorong menjadi episentrum layanan berbasis komunitas dengan konsep total coverage.
Sejumlah inovasi unggulan diperkenalkan:
- KuLiat Catin di Posyandu (skrining kesehatan calon pengantin)
- Botting Paru (pencegahan stunting sejak pra-nikah)
- Punjabu Pak Ramli (layanan terpadu berbasis partisipasi masyarakat)
Model ini memperkuat pendekatan preventif, promotif, dan berkelanjutan.
Penguatan Sistem Kesehatan Daerah
Didukung jaringan layanan kesehatan yang meliputi:
- 14 Puskesmas
- 8 Rumah Sakit
- Ratusan tenaga kesehatan lintas profesi
Pemerintah daerah terus mendorong health system strengthening, termasuk digitalisasi melalui SIGIZIKESGA serta peningkatan kapasitas SDM kesehatan.
Strategi 2026: Dari Data ke Aksi
Memasuki tahun 2026, strategi difokuskan pada:
- Optimalisasi data BNBA
- Monitoring berbasis real-time
- Penguatan konselor ASI hingga desa
- Penganggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting)
“Ini bukan sekadar program, tetapi gerakan kolektif. Kita sedang menyiapkan generasi unggul sebagai bagian dari bonus demografi Indonesia,” ujar Dr. Ishak.
Sinergi PKK dan Akademisi
Kegiatan ini juga menegaskan peran strategis PKK sebagai agent of change di tingkat keluarga, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan institusi akademik seperti Unhas dalam membangun evidence-based intervention.
Menuju Generasi Emas
Penurunan stunting menjadi bagian dari visi besar pembangunan Sidrap, mulai dari layanan kesehatan gratis, pendidikan unggul, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
“Stunting adalah isu lintas sektor. Menyelesaikannya berarti kita sedang membangun masa depan bangsa,” tutup Dr. Ishak Kenre.
