Jakarta, katasulsel.com — Proyek jalan tembus di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kembali jadi sorotan. Bukan karena progresnya, tapi justru karena tak kunjung rampung meski sudah melewati beberapa era kepemimpinan.
Panjang jalan ini sekitar 2 kilometer. Secara konsep, proyek ini sangat strategis: mengurai kemacetan di titik rawan seperti Pertigaan Volvo hingga jalur padat sekitar Stasiun Pasar Minggu.
Namun di lapangan, ceritanya berbeda.
Hingga 20 April 2026, aktivitas pembangunan nyaris tidak terlihat. Yang tampak justru pekerjaan lain seperti pengerukan untuk pemasangan pipa—bukan pembangunan jalan utama.
Proyek ini pertama kali digagas pada era Basuki Tjahaja Purnama, lalu berlanjut secara administratif di masa Djarot Saiful Hidayat, Anies Rasyid Baswedan, hingga kini di bawah kepemimpinan Pramono Anung Wibowo.
Empat periode, satu proyek. Tapi progres fisik belum signifikan.
Awalnya, pengerjaan dimulai dari pembebasan lahan di sekitar Pertigaan Volvo, Kelurahan Pejaten Timur. Sejumlah bangunan sempat dibongkar. Namun, di titik lain, proses itu belum tuntas.
Di sekitar Stasiun Pasar Minggu, misalnya, masih terlihat permukiman warga yang berdiri. Ini jadi indikator bahwa tahapan pembebasan lahan belum selesai—dan menjadi “rem utama” proyek.
Padahal, jika rampung, jalan ini bisa memangkas jalur dari arah Kalibata menuju Tanjung Barat, Lenteng Agung hingga Depok tanpa harus melewati titik macet.
Selain itu, posisi proyek yang berdekatan dengan Badan Intelijen Negara juga membuatnya dinilai strategis dari sisi tata kota dan keamanan.
Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal perencanaan. Tapi soal eksekusi yang tersendat.
Warga pun mulai mempertanyakan kejelasan proyek tersebut. Bukan hanya soal kemacetan, tapi juga kepastian—apakah proyek ini akan dilanjutkan atau kembali “mengendap”.
Harapannya, di bawah kepemimpinan saat ini, proyek yang sudah terlalu lama tertunda ini bisa segera dituntaskan.
Karena bagi warga, jalan tembus ini bukan sekadar proyek infrastruktur.
Tapi jawaban atas kemacetan yang sudah terlalu lama mereka hadapi setiap hari. (*)
