📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Jika dianalogikan, belanja modal ini seperti jari di laut. Ada, tapi sangat kecil, hampir tidak terlihat. Jalan baru? Beberapa titik. Pasar modern? Sepersepuluh rencana. Infrastruktur? Hanya garis tipis di peta.

Masyarakat mungkin berharap banyak, tapi APBD memberi sedikit. Atau bisa jadi, pemerintah memang ingin menguji kesabaran rakyat—seperti memberi seteguk air dari sumur yang luas tapi tersembunyi.

Belanja Lainnya sebesar Rp11,19 miliar. Angka ini cukup untuk proyek-proyek misterius. Kadang muncul di berita, kadang hilang begitu saja. Mungkin untuk pelatihan soft skill, seminar strategis, atau pembelian souvenir acara penting.

Di sini terlihat, sebagian anggaran memang fleksibel. Bisa dipakai untuk kebutuhan rakyat, bisa juga… untuk kebutuhan internal yang tidak terlalu terlihat, tapi tetap membuat mata pegawai berbinar.

Jika ditarik garis satirnya, APBD Enrekang 2025 bercerita banyak hal:

  1. Prioritas Pegawai: Kantong internal tetap tebal, meski total anggaran turun.
  2. Belanja Modal Minim: Infrastruktur, fasilitas publik, dan proyek nyata tampak seperti “bonus” kecil.
  3. Belanja Lainnya Misterius: Fleksibel, kreatif, dan kadang jadi rahasia kabinet daerah.

Artinya, APBD adalah cermin: yang terlihat jelas adalah kepentingan internal, yang samar adalah kepentingan publik. Tidak salah kalau masyarakat kadang merasa “dikerjain” oleh angka yang tampak tinggi tapi terasa minim manfaat.

Anggaran turun, pegawai tetap sejahtera. Belanja modal minim, tapi janji proyek tetap megah di papan rencana. Belanja lainnya misterius, tapi mata birokrat berbinar.

Masyarakat? Mereka menunggu, sambil menaruh harap di meja makan, di jalan kampung, di pasar, dan di setiap layanan publik yang seharusnya disentuh APBD.

APBD 2025 Pemkab Enrekang bisa jadi cerita klasik: kantong internal tetap nyaman, ambisi tetap tebal, rakyat menunggu. (*)